Home > Wisata > Taman Menteng, Hutan Belantara yang Jadi Oase Jakarta

Taman Menteng, Hutan Belantara yang Jadi Oase Jakarta

taman menteng

Kesan nyaman langsung terasa ketika berada di taman yang menjadi oase Jakarta ini. Udara sejuk Taman Menteng yang mengalir lembut diantara gemerisik daun pepohonan mampu meredam kepenatan sekaligus bisingnya lalu lintas ibukota yang padat.

Tak hanya akhir pekan, di hari biasa Taman Menteng selalu mudah menemukan warga ibukota yang memanfaatkan ruang terbuka hijau ini sekedar untuk berolahraga kecil, bercengkerama, melepas penat dibawah teduhnya pepohonan atau menumpang kencangnya akses wifi di taman ini. .

Di tengah taman sebuah kolam berbentuk bulat yang dikelilingi dengan bangku taman cantik justru terkesan kalah pamor dengan keberadaan dua rumah kaca yang saling berhadapan dengan bentuk ikonik sekaligus estetis.

Dua rumah kaca yang kerap dijadikan sebagai ajang pameran lukisan maupun karya fotografi ini, dianggap menjadi ruh dari keseluruhan taman. Bentuknya yang futuristik dengan dinding kaca transparan kerap menghiasi beranda media sosial, tak sedikit pula pasangan yang menjadikan rumah kaca ini sebagai lokasi foto pre wedding.

Taman Menteng seolah menjadi refresentasi cita-cita Belanda di era pendudukannya yang hendak menjadikan Menteng sebagai kota taman layaknya Minerva di Belanda. Dalam buku Batavia Kota Banjir karya Alwi Shahab menyebut perusahaan asal Belanda NV. Bouwpleg sebagai perusahaan real estate pertama di Indonesia yang menggagas wilayah Menteng sebagai kota taman tahun 1879.

Taman Menteng Dulu

Taman Menteng dulu tak bisa dilepaskan dari kawasan Menteng secara keseluruhan. Sejak zaman penjajahan Belanda, kawasan Menteng yang ada di Kota Jakarta Pusat memang sudah dikonsentrasikan sebagai pusat hunian para ekspatriat asal Belanda mulai dari pejabat pemerintahan hingga pengusaha dan Taman Menteng adalah salah satu areanya.

Dibawah visi Pieter Adriaan Jacoobus Moojen selaku arsitektur pada perusahaan real estate ternama asal Belanda, NV. Bouwpleg kala itulah yang berjasa mengubahnya sebagai kawasan hunian modern pertama kali di Jakarta bahkan di Indonesia pada tahun 1920 hingga 1940.

Baca Juga: Menjadi Content Writer cum Bapak Rumah Tangga yang Profesional

Grand Desain dan Penamanaan Menteng

Pada awalnya penamaan Menteng ini pula merujuk pada keberadaan pohon penghijauan bernama Menteng (Beccaurea Racemosa) yang tumbuh subur di wilayah ini yang masih berupa hutan belantara pada periode tahun 1700 akhir.

Kemudian pada tahun 1810, kawasan yang menjadi bagian dari Batavia ini dibuka termasuk mengkonsentrasikannya sebagai pusat hunian modern karena dukungan sarana mulai dari suplai air, udara yang sejuk dan kontur lahannya yang ideal untuk permukiman.

Perlahan tapi pasti, kawasan ini semakin berkembang, bahkan pada tahun 1912, Gubernur Jenderal Daendels menetapkan Menteng sebagai kawasan perumahan untuk para pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Kawasan Menteng bergerak secara dinamis dalam hal tata ruang termasuk penambahan infrastruktur tertentu seperti jalan maupun taman-taman baru hingga benar-benar baku setelah terakhir dimodifikasi lansekapnya oleh arsitek FJ Kubatz pada tahun 1920.

Kala itu, taman yang paling terkenal di kawasan Menteng adalah taman yang menjadi Taman Suropati saat ini. Pepohonan berukuran besar menjadi pagar taman yang menjulang kehijauan, hamparan rumput dan tanaman hias yang cantik dari beragam koleksi tumbuh semarak di taman ini.

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi menyebut kawasan Menteng kala itu dianggap sebagai kawasan dengan tingkat peradaban yang baik termasuk strata sosialnya yang tinggi dengan hunian yang didominasi dengan pekarangan yang luas dengan taman-taman cantik di dalam tiap hunian.

Kawasan Taman Menteng

Akan halnya dengan kawasan Taman Menteng yang ada saat ini, dulunya adalah tempat berolahraga bagi para sosialita Belanda. Tempat seluas lebih dari tiga hektar ini pernah begitu populer sebagai tempat berbagai pelaksanaan lomba termasuk pacuan kuda pada tahun 1921.

Sampai masa penjajahan selesai, Taman Menteng kemudian dialihkan sebagai stadion bagi klub sepakbola legendaris Jakarta, Persija pada tahun 1960, hal ini karena Persija membutuhkan lapangan yang refresentatif untuk latihan maupun untuk penyelenggaraan laga.

Sebagai penguat status peralihan lahan menjadi stadion itu, pada tahun 1975, Gubernur Jakarta menetapkan kawasan cagar budaya itu sebagai stadion utama Persija, beberapa menyebutnya sebagai Stadion Menteng.

Keberadaan stadion ini berlangsung selama seperempat abad lebih, pertumbuhan minat masyarakat Jakarta terhadap sepak bola yang tinggi memicu bertambahnya jumlah fans klub sepakbola Persija, sementara daya tampung stadion tidak sebanding untuk menampung penonton, terlebih ketika Persija tengah menjamu lawannya di stadion itu.

Sampai akhirnya pada tahun 2004, Gubernur DKI Bang Yos mengalihkan kandang klub Persija ke Stadion Lebak Bulus yang lebih besar dengan kapasitas daya tampung yang besar.

Stadion Menteng yang lowong setelah Persija beralih ke Lebak Bulus kemudian dilakukan pembongkaran untuk dijadikan sebagai taman dalam upaya ketersediaan ruang terbuka hijau pada tahun 2007.

Baca Juga: Belajar Dermawan dari Aqiqah

Taman Menteng Kini

Titik tolak Taman Menteng sebagai ruang terbuka hijau memang mulai dilakukan pada tahun 2007, alih fungsi dari stadion menjadi taman termasuk sebagai kawasan reservoir atau resapan untuk menekan kemungkinan dampak banjir yang meluas di Jakarta.

Disisi lain, kualitas udara di Jakarta yang kala itu mulai mengarah pada maraknya polusi udara dari asal kendaraan membutuhkan taman atau ruang hijau yang memiliki fungsi beragam, dan itulah yang kemudian diwujudkan dalam pengembangan Stadion Menteng menjadi Taman Menteng sebagai paru-paru ibukota.

Banyak perubahan signifikan yang terjadi di Taman Menteng tak hanya dalam perbaikan kualitas tapi juga penambahan fungsi-fungsi ekologi pada taman serta menjadikannya sebagai area publik yang ramah, berikut sejumlah fungsi Taman Menteng:

taman menteng

Kawasan Hijau dan Sumur Resapan

Berada di atas lahan seluas 29 ribu meter persegi, Taman Menteng sepenuhnya dijadikan sebagai kawasan hijau dengan beragam koleksi tanaman penghijauan yang efektif untuk menyaring kualitas udara yang baik dari karbondioksida seperti pohon Damar, Trembesi, Biola, Kecrutan termasuk pohon Menteng itu sendiri.

Sebagai daerah tangkapan air, di taman ini terdapat sebanyak 44 sumur resapan utama yang memiliki daya serap tinggi terhadap air hujan sekaligus sebagai sumber pasokan air bagi tanaman yang ada di Taman Menteng.

Koleksi Tanaman yang Lengkap

Selain pohon Damar, Trembesi, Biola, Kecrutan dan pohon Menteng terdapat sebanyak 502 jenis pohon pelindung yang dibudidayakan di taman ini, ditambah 30 jenis tanaman hias dengan total koleksi tanaman yang ada di Taman Menteng mencapai 1000 jenis tanaman.

Dengan total budidaya tanaman penghijauan dan tanaman hias itu, Taman Menteng tak hanya bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi tapi juga sebagai media edukasi yang efektif.

Sarana Rekreasi dan Olahraga

Sebagai publik area, taman ini juga dilengkapi berbagai penunjang rekreasi mulai dari taman bermain anak yang dilengkapi dengan berbagai wahana permainan ramah anak, hingga area rerumputan yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi.

Demikian halnya untuk kebutuhan olahraga, fasilitas utama seperti ketersediaan jogging track untuk berolahraga ringan hingga pemanfaatan area seputar taman untuk sarana olahraga seperti fitnes, senam, bersepeda hingga bermain futsal, voli hingga basket.

Rumah Kaca

Keberadaan dua rumah kaca yang sangat estetik di Taman Menteng inilah yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung taman. Awalnya bangunan ini akan difungsikan sebagai lokasi pembibitan berbagai jenis tanaman, namun entah kenapa justru dialihfungsikan sebagai ruang pameran seni.

Berbagai jenis karya seni hingga karya fotografi pernah dipamerkan di rumah kaca ini dan bisa dinikmati pengunjung secara gratis.

Wisata Kuliner

Di malam hari, Taman Menteng bersalin rupa menjadi lokasi wisata berbagai jenis kuliner khas kaki lima yang menawarkan citarasa yang nikmat dengan harga yang terjangkau. Penganan seperti bakso, sate, bubur ayam hingga pecel lele tersedia disini.

Tak heran jika di malam hari, taman ini selalu menjadi lokasi tongkrongan wajib milenial Jakarta, selain bisa menikmati keindahan taman juga bisa menikmati beragam sajian kuliner.

Fasilitas

Sebagai ruang terbuka hijau di lokasi bergengsi, Taman Menteng sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti mushola, toilet, bangku taman hingga akses wifi gratis. Bahkan untuk urusan kantong parkirnya, di taman ini disediakan area parkir 4 lantai khusus dengan kapasitas hingga ratusan kendaraan.

Lokasi Taman Menteng

Taman Menteng terletak di Jalan H.O.S Cokroaminoto, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Lokasinya yang terbilang strategis ini bahkan bisa diakses melalui lima jalan besar utama yang ada di Jakarta Pusat, bahkan dari Bundaran HI, jarak ke taman ini hanya memakan waktu kurang dari 15 menit.

Sedangkan jenis transportasi yang bisa digunakan untuk mengakses taman ini bisa menggunakan bus Trans Jakarta maupun bus Kopaja jurusan Senen – Lebak Bulus.

Leave a Reply