Home > Nyatire > Bu Siti, Bu Susi Pudjiastuti Titip Salam

Bu Siti, Bu Susi Pudjiastuti Titip Salam

susi pudjiastuti

Bu Siti Nurbaya Bakar ini tipe menteri yang sangat visioner. Pandangannya yang jauh ke depan, sudah melampaui nalarnya. Pikirannya seperti menuntun masa depan.

Tak hanya sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, visinya bahkan sudah melampaui Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perindustrian, dan berderet menteri-menteri lainnya.

Kami, rakyat Indonesia bangga punya menteri seintelek ibu.

Kapabilitas Bu Siti ini membuatnya sampai-sampai harus mengkoreksi banyak pekerjaan kementerian lainnya dengan kata kunci deforestasi, sungguh luar biasa, ibu.

Rasa-rasanya, ibu layak jadi duta pembangunan, sejajar dengan Zaskia Gotik yang duta Pancasila itu, bu. Level ibu juga, sudah sekelas Bu Tedjo, yang duta solutip itu bu.

Lewat cuitan ibu, “pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi”. Sungguh sudah membuka wacana kami, yang tidak habis pikir tapi sudah habis kata ini, bu.

Biarlah bu, walau setiap tahun ada lebih dari 1, 47 hektare hutan di Indonesia mengalami deforestasi, kita-kita ini bakal permisif atas aksi-aksi yang ibu sebut atas nama gerak pembangunan itu.

Ibu Siti bahkan sudah menggunting pita untuk masuknya para pelaku deforestasi. Dan, dengan amat cerdas menempatkan generasi penerus bangsa sebagai pewaris sah Indonesia di nomor yang kesekian.

Jangan seperti Bu Susi Pudjiastuti, bu, yang sepanjang jabatannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, cuma bisa memberikan tingkat kepuasan yang ‘hanya’ 91,95 persen, jangan ya bu.

Bu Susi juga ‘cuma’ bisa menenggelamkan 556 kapal asing yang melakukan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia. Yang efek dari kebijakan penenggelaman kapal itu ‘hanya’ mampu meningkatkan Maximum Sustainable Yield dari 7,3 juta ton menjadi 12, 54 juta ton.

Peningkatan stok ikan di era Bu Susi Pudjiastuti ini juga, ‘lagi-lagi cuma’ dibarengi dengan kenaikan jumlah dan nilai produksi perikanan tangkap dari 6,67 juta ton senilai Rp120,6 triliun pada 2015 menjadi 7,3 juta ton dengan total nilai Rp. 210,7 triliun pada 2018.

Prestasi dan penghargaan Bu Susi Pudjiastuti juga ‘hanya’ sedikit dibanding Bu Siti, tentunya.

Bu Susi cuma pernah jadi satu-satunya (perempuan) dan orang Indonesia yang masuk dalam 100 tokoh pemikir dunia di tahun 2019, karena ketegasannya dalam menjaga marwah perairan laut Indonesia.

Bu Susi Pudjiastuti juga ‘cuma’ masuk dalam jajaran The 100 BBC Woman karena dianggap sebagai tokoh yang menginspirasi dan memberikan kontribusi positif terhadap Indonesia dan tentu saja keberlangsungan biota laut Indonesia.

Selain itu, pada 2016, WWF juga pernah menganugerahi award kepada Susi Pudjiastuti sebagai Leaders for a Living Planet.

Bu Susi juga menginspirasi konsensus bersama tingkat dunia untuk menghapus illegal fishing di seluruh perairan dunia sejak setahun lalu.

Tapi, sederet prestasi Bu Susi Pudjiastuti itu biasa saja. Buat kami, Bu Siti tetap yang terbaik.

Meski Bu Susi berhasil membangun legacy dan legitimasi terhadap perairan Indonesia di mata dunia, Bu Siti tetap is de bes.

Seandainya, simbolisasi kartini itu periodik, kami tetap menunjuk Bu Siti Nurbaya yang pantas mendapatkannya, bukan Bu Susi Pudjiastuti.

Bu Siti, kami juga sudah siap hidup berdampingan dengan sekawanan gajah, dan bertetangga dengan Harimau Sumatera, atau berdamai dengan banjir dan krisis air, seandainya deforestasi atas nama pembangunan itu terjadi, anything but you pokoknya Bu Siti…

Mulai sekarang, kami juga bakal tak peduli dengan idiom; “kalau dapur mu sudah dengan leluasa dijamah orang lain, itu bukan lagi rumah, tapi wc umum, yang bebas diberaki semua orang cukup dengan dua ribu!”. (msr)

Leave a Reply