Home > Ngopi > Utara Jakarta, Keramat Dunia dan Muhammadiyah

Utara Jakarta, Keramat Dunia dan Muhammadiyah

Utara Jakarta yang identik dengan semua yang keras dan semua orang disana yang dipaksa bertahan hidup dengan cara apa saja sebagai sebuah kelaziman.

Di utara Jakarta yang selalu berkisah tentang kalah dan menang yang selalu berjodoh dengan otak dan otot atau ngotak dan ngotot itu, ternyata ada pengecualian lain yang lebih teduh di utara Jakarta.

Dari teras rumah yang nostalgik itu, yang selalu mengingatkan sebaris kalimat pelan dari sosok yang amat tenang, dari atas kursi rodanya.

“Muhammadiyah itu sederhana saja, Meza,” ucapnya, diantara gelas-gelas kopi, sepiring gorengan dan bungkus-bungkus nasi kuning khas Jakarta.

Tak ada sisipan antitesis atau tendensi apa-apa di kalimat itu. Ia menjadi semacam intermezo yang tegas, pengiring pagi di satu waktu yang sejuk di utara Jakarta.

Padahal dulu, sebelum menikah, perspektif saya cenderung subjektif, dan menganggap semua komunitas besar yang berbasis agama cenderung saklek, rujukannya cuma dua; Al-Qur’an dan Al-Hadits, karena saya terlanjur besar dan dibesarkan di lingkup nasionalis.

Ternyata semuanya bisa ‘ditawar’ melalui pendekatan yang humanis, meskipun saya seorang menantu yang sebenarnya tak punya kuasa untuk menginterup, tapi caranya menghargai siapa pun lawan bicaranya, membuat sosoknya jadi amat istimewa.

Saya tak sempat mengenalnya sebagai organisatoris yang total di Muhammadiyah. Saya mengenalnya sebagai satu dari empat keramat dunia yang begitu saya khidmati.

Sampai saya tahu, persepsi kesederhanaan seperti yang diucapkan oleh sosok keramat dunia itu justru dari kerabatnya sendiri, Buya Nurvaif Chaniago, ulama kharismatik yang pernah menjadi pimpinan Muhammadiyah di Lampung.

Sama sepertinya, tak pernah ada tendensi dalam tiap tutur dari silaturahmi itu. Sosok itu dan Buya Nurvaif berhasil membangun persepsi tentang Muhammadiyah di mata saya yang awam dengan amat indah.

Termasuk kisah diplomasi sate yang membangun kesederhanaan orang perorang yang ada di dalam Muhammadiyah, yang pada akhirnya membangun hubungan sedarah yang selalu diingat bahkan berpuluh tahun kemudian.

Keduanya tak pernah membangun narasi yang gigantis tentang Muhammadiyah selain tutur santun yang sejalan dengan tingkat ketokohannya.

Mereka tak riya’ dengan apa yang sudah mereka buat untuk lingkungan sosialnya karena tanggung jawabnya sebagai pengikut Muhammad adalah tentang bermanfaat untuk semua makhluk.

Setelahnya, waktu yang akan bertanggungjawab menjalankan kisah keikhlasan itu untuk diceritakan kepada saya, kepada semua orang.

Bukan dalam arti sejarah yang jumawa yang selalu diceritakan oleh para pemenangnya, tapi lebih sebagai manusia, sebagai makhluk sosial yang punya tanggung jawab terhadap kemaslahatan orang banyak.

Buat mereka-mereka yang memaknai organisasinya dengan amat utuh, maka akan selalu ada kemurnian didalamnya. Karena perspektif yang dilihat juga lebih luas, bukan untuk personal maupun kelompok, tapi untuk dimensi yang lebih luas; umat.

Sebab sekali lagi, konsepsi berorganisasi adalah tentang bermanfaat untuk semua makhluk.

Dia yang pernah punya peran dan andil dalam merumuskan kubangan kotor bernama Kramat Tunggak menjadi Islamic Center yang simbolik seperti saat ini, saya mengenangnya dari kursi-kursi di teras rumah di utara Jakarta yang jauh lebih sepi setelah dia pergi.

Kalimat itu, sesederhana sosok yang selalu mencari bekas lipatan tangannya di antara lembar-lembar Al-Qur’an tebal yang selalu ia baca sebagai penutup pagi, di atas kursi rodanya, tepat di samping kursi teras rumah dengan suara yang amat lirih, yang tak pernah peduli terhadap nyamuk utara Jakarta yang terus menggerogoti kaki tuanya.

Saya bukan Muhammadiyah, tapi saya menikmati cara mereka ber-Muhammadiyah yang istiqomah, menenangkan dan tak gaduh. Sama seperti saya meneladani Gus Baha yang berjodoh dengan makna sederhana.

Di utara Jakarta yang keras, serombongan nyamuk pesisir kota yang memilih berteduh saat hujan di bawah-bawah pohon jambu yang menjulang tak jauh dari teras rumah dengan kursi-kursi kayu…

 

Leave a Reply