Home > Ngopi > Rajabasa dan Antiklimaksnya

Rajabasa dan Antiklimaksnya

rajabasa

Rajabasa, adalah ritme yang bukan hanya sepintas lalu. Rajabasa yang identik dengan gerak, harapan dan kerinduan ini pernah menjadi sesuatu yang amat intens.

Saat saya masih sekolah di Yogyakarta atau bekerja di beberapa kabupaten di Lampung, Rajabasa selalu menjadi persinggahannya.

Saya amat mengingat peristiwa ikonik, tentang Rajabasa secara personal.

Pintu bus antar kota antar provinsi belum sepenuhnya terbuka. Saya berada di antrian pintu keluar bus bersama tiga penumpang lain di depan saya, suara riuh dari luar bus di Terminal Rajabasa sudah terdengar, ada yang berteriak, dan kemudian;

“(Ke) mana?,” tanya seorang calo kepada saya, matanya tajam dan amat mengintimidasi.

“Kotaagung, Pringsewu, Metro?” kejarnya lagi.

“Dijemput,” ujar saya lelah.

“Dijemput siapa? Ambulan?,” katanya sambil berlalu.

—-

Pukul 01.30 dini hari, Rajabasa masih belum usai.

Hiruk pikuk yang sedikit, ditengah kelimunan gelap membuatnya tetap tegas sebagai terminal.

Di emperan loket-loket bus, bertumpuk dengan dagangannya, mata Simah (60) masih amat awas dan belum lelah,”sambil nunggu adzan (subuh) baru pulang ke rumah,” katanya.

Masih ada harapan pada Simah–meski Rajabasa sudah semakin dingin.
Bus-bus antar lintas masih melintas di depan rak dagangan kaki limanya.

Dari arah barat, seorang calo terseok-seok, berjalan seperti menyeret, dua kardus dan satu tas jinjing penuh ditangan-tangan kekarnya, sepasang suami istri yang sudah berumur mengekor dibelakangnya.

Dua bule, bercelana pendek dengan baju you can see, terlihat berbincang dengan penjaga loket bus tujuan Liwa, tak ada gurat khawatir apalagi takut.

Entah, mungkin mereka tak tahu ‘siapa’ Rajabasa (dulu).

———-

Sore itu, awal tahun 2000 lalu, dari arah terminal, semua orang berhamburan keluar, tunggang langgang.

Keadaannya begitu cepat. Semua sudah porak poranda, menciptakan kengerian tersendiri.

Ulah calo terminal yang berselisih dengan aparat berbuntut panjang, sekelompok aparat merangsek, mencari calo yang menjadi biang.

Kali lain, di perkara berbeda tapi di terminal yang sama, seorang penumpang perempuan dirudapaksa oleh seorang calo.

Berderet bentuk kriminalitas terus menjadi catatan hitam, dan kian membentuk stigma angker terminal ini.

Diluaran pula, nama Rajabasa adalah ikon lain dari Lampung setelah Gajah. Namanya terlanjur hitam. Kebanyakan orang menganggap tempat ini seperti belantara, yang berlaku hanya melulu hukum rimba.

Orang lebih memilih memeluk dingin di lantai-lantai Pelabuhan Bakauheni hanya untuk menghindar dari Rajabasa yang terlanjur menjadi momok.

Terminal-terminal bayangan dimana-mana, mengepung Rajabasa, menjual kengerian dengan cara yang lain, entah pula sebagai cara dari menghindar.

——————

Sekian lama setelahnya, Rajabasa seperti terseok oleh zaman, dia bukan lagi jadi tempat untuk orang-orang yang hidup dari otot.

Rajabasa tak lagi seksi untuk calo yang selalu menyelipkan garpu dipinggangnya. Ia tersisih.

Malam itu, saya melihat Simah santai menghitung lembar-lembar uang dua ribuan hasil jualannya, diantara sejumlah orang yang sesekali berteriak kepada yang datang.

Disudut sebuah loket, saya juga melihat calon penumpang tujuan Jakarta, seorang perempuan, yang dengan santai mendengarkan lagu dari headset ponsel pintarnya.

Dari kejauhan pula, bus-bus jurusan Bakauheni bergerak maju-mundur seolah hendak segera berangkat tiap kali ada calon penumpang datang.

Sesekali saya pula melihat saat penjaga loket seperti tergagap melayani pertanyaan dua bule yang hendak surfing ke Tanjung Setia.

“weiting en sitdon in hiyer mister-mister, don go eniwei par egen don los, ay kol de supir wer hi naw okey, ay make de tiket por yu en yu”
Rajabasa, bisa jadi sebuah epos yang amat keras buat orang-orang yang pernah ada didalamnya atau pula sejarah kelam buat yang lain.

Hari ini, udara yang lebih banyak membungkus keadaannya bisa jadi sebuah antiklimaks perjalanan sebuah waktu yang mulai meninggalkannya sendirian.

Leave a Reply