Home > Ngopi > Lampu Merah, Silverian dan Busuknya Budaya Instan

Lampu Merah, Silverian dan Busuknya Budaya Instan

Lampu merah kini tak lagi identik dengan mobilitas. Ada entitas lain yang menjadikan lampu merah sebagai tempat mencari nafkah bagi orang-orang yang pandai memanfaatkan momen.

Dan, manusia silver adalah wujud itu. ia bakal menjadi sejarah sejalan dengan dinamisnya lampu merah sebagai simbol komunal.

“Jalan pintas ini” menghiasi hiruk pikuk ruas-ruas jalan arteri setiap hari, dari yang bayi sampai mantan polisi di persimpangan jalan.

Nyaris tak ada komoditas yang mereka jual di garis-garis penyeberangan itu kecuali tangan yang menengadah. Warnanya sedikit kontras dengan terik dengan aksen warna yang monoton.

Untuk sebuah kotapolitan, tak ada yang salah dengan silverian itu, sebaliknya mereka adalah salah satu identitas majunya sebuah peradaban kota. Karena salah satu sifat kota adalah soal ketidakpedulian yang hidup secara sendiri-sendiri.

Kota berusaha mengimbangi gerak manusia yang tinggal bersamanya, karena sosok manusia kota hanya melulu tentang gerak ritmis yang dinamis, acuh dan sinis.

Dan, silverian adalah jeda dari gerak itu. Mereka sekaligus menjadi pembeda antara siapa yang menang dan siapa yang kalah melalui simbol-simbol duniawi.

Kesamaan dari keduanya adalah sama-sama menggunakan kedok untuk mengais uang lewat cara yang salah.

Silverian adalah trend baru mengemis. Ketika mengemis dianggap sebagai gaya lama mengais rejeki dengan cara paling instan sudah dianggap terlalu kumuh, ketinggalan dan tak lagi menjual.

Maka, silverian adalah pergeseran yang tidak selalu kompleks, karena makna dan komodifikasinya tetap sama saja.

Dulu analogi lampu merah adalah tentang penjual koran dan pedagang asongan. Sekarang, makna itu bergeser. Lampu merah menjadi kronik sejarah tentang simbol harapan yang kerap menjadi isu permasalahan kota dan ketimpangan sosial yang akut.

Baca Juga:  When Dog Goes Public; Njirrr

Banyak orang mengukur keberhasilan suatu pemerintahan di daerah pun cukup dengan melihat apa yang hari ini ada di lampu merah

Persoalan hari ini adalah bukan hanya faktor ketimpangan sosial dan buruknya manajemen pemerintah mengelola keadaan, tapi juga masyarakat terlanjur menganggap sesuatu yang instan itu serba mudah dikerjakan.

Kita cenderung dibuai dengan malas dan menganggap proses sebagai hal yang melelahkan dan tak perlu ada.

Dalam teori psikologi evolusioner, seperti yang disebut Dr. Juneman Abraham, Doktor Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia, nenek moyang manusia sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat untuk memiliki tujuan hidup jangka panjang hingga akhirnya tak pernah mengira akan seperti ini.

Hal ini karena, yang terpenting bagi mereka pada saat itu adalah bagaimana bertahan hidup meski untuk sekedar hari ini saja.

Akan halnya penekanan pada masa kini adalah tentang kita yang mewarisi insting nenek moyang itu dalam program pikiran serupa.

Pemicunya adalah serbuan tuntutan hidup, kompetisi, serta semarak dan serba cepatnya perubahan di lingkungan.

Sementara manusia secara biologis maupun psikologis memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengolah informasi, melakukan refleksi dan merencanakan adaptasi meski sejatinya sudah dibekali akal dan nalar.

Jalan pintas lalu nampak menjadi pilihan yang realistik dan rasional di saat orang tidak mampu mengimbangi serbuan perubahan tersebut.

Suburnya budaya instan ini pulalah yang menjadi saudara sedarah dengan silverian yang sejodoh dengan pemerintah yang tak mampu mengelola negara dengan baik.

Mereka bukan tak memiliki keahlian atau tenaga untuk digunakan, tapi sikap malas cenderung lebih dominan, dengan berpikir terlalu pragmatis bahwa jalan pintas itu hanya ada satu cabang tanpa persimpangan seperti tempat mereka berdiri.

Baca Juga:  The Charm of Kedung Kayang, Natural and Clean Waterfall

Yang sedikit melegakan hari ini dari silverian-silverian itu adalah, kemampuan mereka untuk mengelola nafsu dari sesuatu yang instan yang mungkin lebih besar dari sekedar memajang tubuh dengan warna yang monoton dan kemudian tanpa ekspresi menengadahkan tangan semaunya.

Karena mencuri dan korupsi itu membutuhkan sebuah proses yang sesekali terkoordinir dengan amat rapih.

Leave a Reply