Home > Ngliwon > Kontrakan Berhantu

Kontrakan Berhantu

kontrakan berhantu

Dulu pernah mengalami kejadian aneh waktu tinggal di bedeng kontrakan. Jadi, rumah kontrakan yang aku tempati itu ada 11 pintu. Rumah ku paling pojok, sebelahnya ada semak belukar yang menghadap langsung ke kuburan. Kira-kira jaraknya 40 meteran dari rumah ku.

Di belakang rumah juga ada lahan perkebunan milik orang lain. Ada pohon jengkol besar tepat di tengah kebun itu, jaraknya sekitar 20 meter dari pintu belakang rumah.

Nah, kejadiannya bermula sewaktu kami baru saja pindah, waktu itu aku sedang hamil 9 bulan. Sengaja pindah karena di rumah lama kekeringan air. Jadi, mau gak mau harus pindah sebelum lahiran.

Nah sewaktu pindahan aku sengaja buka semua pintu dan jendela biar angin masuk ke rumah yang sudah sejak 2 bulan lalu kosong, maksudnya agar hawa pengapnya keluar. Kebetulan aku pindahan menjelang Maghrib karena saat itu aku dan suami sama-sama bekerja.

Pintu belakang juga aku buka, karena udara dari belakang paling sejuk. Nggak sengaja aku lihat ada kain putih menjuntai di pohon jengkol, kondisinya gelap banget karena jauh dari rumah warga yang lain.

Cuma anehnya hanya aku yang bisa liat kain putih itu, suami dan temen-temen yang bantuin pindahan tidak ada yang melihatnya. Kemudian, akhirnya aku mikir mungkin Cuma bayangan atau pendaran dari cahaya lampu dapur ku.

Setelah beberapa bulan dan aku udah lahiran mulailah ada kejadian-kejadian yang aneh. Pertama anak-anak ku yang kelas 4 dan 2 SD selalu bercerita jika selalu ada barang yang jatuh dari lemari atau kulkas padahal posisinya nggak mungkin bisa jatuh sendiri.

Kemudian, saat mereka lagi nonton di ruang tengah tiba-tiba gorden kamar menutup sendiri. Alhasil anak-anak lari semua keluar rumah, karena saat itu aku dan suami belum pulang kerja.

Baca Juga:  Geopark Ciletuh, Unesco Version of Earth Park that Only Exists in West Java

Kadang anak ku yang perempuan suka ngeliat orang yang lari di belakang rumah, waktu di lihat gak ada orang. Jendela kamar anak-anak yang menghadap ke belakang juga sering di ketuk dari luar, tapi saat di lihat tidak ada siapa-siapa.

Dan rasanya nggak masuk akal ada orang di belakang rumah, karena di kebun belakang rumah gelap sekali kalau malam hari. Ditambah lagi anak-anak ku suka diganggu sewaktu tidur, kadang selimutnya di tarik, pernah juga dipindah ke ruang tamu.

Akhirnya aku yang nggak percaya sama cerita anak-anak ikut ngerasain sendiri gangguan-gangguan itu. Mulai dari dapur, saat masak malam hari, pintu belakang sengaja ku buka biar hawa panas dari kompor keluar. Eh, ada yang melempar aku dari pintu belakang, waktu aku liat keluar tidak ada orang. Karena perasaan sudah tidak enak, pintu belakang pun ku tutup.

Selain itu, beberapa kali sewaktu lagi masak, seringkali kehilangan bahan masakan dan alat masak padahal baru aja ku pakai kadang barang-barang yang hilang itu ditemukan di tempat yang nggak masuk akal.

Contohnya, saat lagi ngiris bawang, terus aku tinggal ngaduk sayur sebentar pas mau motong lagi eh pisaunya hilang, anehnya pisaunya ketemu di depan rumah deket rak sepatu. Terus lagi, saat mau masak sayur sop, kentangnya udah di kupas dan di rendam saat mau di masak eh kentangnya hilang, dan ditemukan di kamar anak-anak.

Kemudian lagi setelah tetangga sebelah rumah pindah, rumah sebelah kosong hampir 3 bulan. Ibuku setiap kali nginap di rumah sering denger suara piring di seret di lantai atau di dinding dari kontrakan sebelah yang sudah kosong.

Baca Juga:  Teror Nenek Bela

Awalnya aku tidak percaya, jadi suatu malam aku terbangun sekitar pukul.23.00, aku duduk di depan tv sambil minum teh hangat, karena perut sedang sakit. Tiba-tiba terdengarlah suara seperti benda jatuh di rumah sebelah, aku langsung ingat cerita ibuku, dengan sedikit penasaran aku beranikan diri untuk mendekatkan telinga ke dinding ruang tamu.

Ternyata, ada suara piring di seret-seret di dinding. Seremnya lagi suaranya seperti tepat di balik dinding tempat ku menempelkan telinga.

Dan akhirnya kejadian yang bikin kami memutuskan untuk pindah kontrakan adalah ketika kami pulang ke kampung. Saat itu, kondisi rumah otomatis kosong karena kami pulang semua. Sekitar pukul.21.00 tiba-tiba speaker di dalam rumah hidup sendiri dan memutar lagu dangdut sengan suara yang keras dan sangat mengganggu tetangga lain.

Terus salah satu tetangga nanya ke tetangga lain,”lho, udah pulang Mamanya Daffa dari kampung ya?”. Tapi, tetangga depan rumah menjawab,””kayaknya belum lah kak, rumahnya aja masih di gembok gitu”

Akhirnya ada tetangga yang beranikan diri mengintip lewat celah jendela yang gordennya agak sedikit terbuka dan benar saja tidak ada siapa-siapa di dalam rumah dan tiba-tiba lampu terasnya mati sendiri yang membuat para tetangga kami lari ketakutan.

Setelah kami pindah, sebulan kemudian ada yang mengontrak lagi di kontrakan bekas kami itu. Tapi hanya bertahan 3 hari, katanya setelah pindah anaknya sering nangis saat malam. Seperti orang ketakutan, akhirnya di bawa pulang ke kampung untuk berobat.

Leave a Reply