Home > Nyatire > Anomali itu Bernama Bocil

Anomali itu Bernama Bocil

Pada akhirnya anomali itu berlangsung menjadi amat wajar dalam keseharian. Kondisi ini mengkhawatirkan sebenarnya. Bocil yang awalnya hanya sebagai fenomena kini menjelma sebagai goliath dengan segala kompleksitas tingkah lakunya.

Karena kiblatnya yang cenderung absurd dan musiman, bocil menjadi sosok makhluk yang cenderung untuk memilih tidak menggunakan nalar saat bertindak.

Ia, mereka, tak paham memaknai sebuah keadaan. Kecuali untuk trend, bocil adalah kelompok paling mengkhawatirkan untuk sebuah pola regenerasi.

Mereka hanya jadi obyek eksploitasi yang tak tahu makna dibaliknya. Akibat identitas yang semakin hilang tapi selalu dijadikan dalih sebagai pencarian jati diri.

Maka, hari ini kita yang awam terlanjur terbiasa yang sesekali menganggapnya sebagai lelucon yang naif melihat mereka bertingkah abnormal.

Hebatnya lagi, sebagian orang tua bahkan memanfaatkan mereka sebagai mesin uang paling mudah dengan menjual berbagai hal yang tak senonoh untuk dikesankan sebagai lucu atau bahkan paling berbeda.

Berjoget, membuat kegaduhan dan menganggap semua yang awalnya tabu menjadi keseharian yang biasa saja, tanpa hendak khawatir tapi malah melegitimasinya sebagai bagian dari sebuah masa.

Perilakunya yang menyimpang dianggap sebuah pembenaran oleh kelompok melalui medium dengan embel-embel sosial.

Pada hari ini juga, kita semua akhirnya harus maklum terhadap berbagai kejahatan dengan anak-anak sebagai sumbernya; kekerasan, eksploitasi seksual, bullying, pencabulan, pemerkosaan, hamil diluar nikah hingga menjadi pelaku langsung.

Keadaan ini menjadi konsekuensi paling logis dari pembiaran itu.

Ditengah lemahnya peran keluarga, negara pun cenderung pasif dan hanya bersikap menunggu ketimbang menjalankan tanggung jawabnya untuk menjamin hak hidup anak, dan melindungi dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

Bagi sebagian orang, keadaan saat ini adalah kontra tentang sebuah kerinduan masa lalu yang nostalgik, dimana semuanya masih sangat murni, sampai kemudian sosok monster bernama teknologi mengubah keadaan itu seperti kilat.

Meluluhlantakkan kenangan sebagai yang tak perlu diingat kembali.

—-

  • Ada 84,4 juta jumlah anak dan remaja di Indonesia, 90,61 persen anak muda masih memanfaatkan internet hanya untuk media sosial dan jejaring sosial
  • Tercatat 5.463 kasus kekerasan terhadap anak. Kekerasan paling banyak dilaporkan terjadi pada anak dengan usia pendidikan SMA ke atas
  • Sebanyak 36,43 persen anak laki-laki dan 19,35 persen anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan fisik selama hidupnya.
  • Sebanyak 6,31 persen anak laki-laki dan 9,96 persen anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan seksual sepanjang hidupnya.
  • Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja menunjukkan bahwa
    sekitar 62% anak laki-laki dan perempuan usia 13-17 tahun mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan selama hidupnya.
  • Jika dilihat pada jenis kekerasan, satu dari 11 anak perempuan dan satu dari 17 anak laki-laki mengalami kekerasan seksual.
  • Kekerasan emosional juga dialami oleh tiga dari lima anak perempuan dan separuh dari semua anak laki-laki.
  • Tahun 2020 ada 1.098 kasus anak dan remaja sebagai pelaku yang harus berhadapan dengan hukum, dengan kasus paling menonjol:
  • Anak Sebagai Pelaku Kekerasan Fisik (Penganiayaan, Pengeroyokan, Perkelahian, dsb) 58 kasus
  • ¬†Anak Sebagai Pelaku Kekerasan Psikis (Ancaman, Intimidasi, dsb) 11 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Kekerasan Seksual (Pemerkosaan/Pencabulan) 44 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Sodomi/Pedofilia 11 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Pembunuhan 8 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Pencurian 22 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Penculikan 3 kasus
  • Anak Sebagai Pelaku Aborsi 10 kasus

(sumber: KemenPPA & KPAI)

 

 

 

1 Response

  1. Elzhivago

    Akar semua masalah kemasyarakatan adalah kemiskinan, termasuk di negeri kita Indonesia.
    Pemangku kebijakan yang miskin empati berujung pada terkonsentrasinya bagian terbesar kekayaan alam kepada bagian terkecil kelompok masyarakat.
    Demokrasi jadi pertanyaan besar nan kompleks selama implementasinya hanya jadi mainan politik sepenggal waktu……

Leave a Reply