Home > Ngopi > Elegi (Bukan) Buat Sahabat

Elegi (Bukan) Buat Sahabat

Dulu, dia dikesankan sebagai sosok paling hype. Tiap reuni, pembawaannya amat cool. Rambut lumayan gondrong dengan potongan ala korean style yang jauh melampaui usianya.

Dia memang amat mencolok, energik dan terlampau sempurna dibandingkan kami yang remeh.

Kami sudah mengenalnya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Kala itu, ia memang tidak terlalu populer, malah cenderung pendiam, jauh dibanding kelompok kami yang terkenal berangasan dan lumayan akrab dengan hukuman guru saat esempe.

Ganteng, wajah yang amat terawat di usia yang sudah kepala empat seperti melengkapi kesuksesannya, dengan segala atribut yang mengidentifikasi kelas sosialnya.

Dari luar, ia memang terlihat sempurna luar biasa. Lingkar hidupnya hanya melulu tentang keberhasilan. Cerita yang ia bangun juga tak pernah jauh dari seberapa intens dirinya dengan pembesar-pembesar negeri.

Melihat merek bajunya pun mungkin cukup untuk menafkahi keluarga kami selama tiga bulan penuh, tanpa jeda, itupun makannya di restoran waralaba terkenal, yang ruangannya ber-ac, kursinya tebal dengan busa yang lembut agar siapapun yang duduk tidak terkena ambeien.

Melihat merek sepatunya, yang konon cukup untuk membeli satu sepeda motor metik baru.

Itu belum termasuk mobil yang ia bawa, yang bisa jadi harganya sama dengan hasil keringat kami seumur hidup.

Kami-kami yang cuma bisa hidup untuk makan, kerap menyisih sendiri kala reuni, malu, sembari meraba-raba bagaimana cara mengiris bistik yang kenyal itu.

Sekali waktu di musim pilihan, kami juga melihat baliho besar bergambar dirinya, di jalan paling padat di kota kami. Ada sedikit tagline yang mencitrakan dirinya sebagai sosok muda yang paling berhak membawa suara rakyat.

Ia memang tak terpilih menjadi wakil tuhan, tapi karena koleganya pejabat paling besar di tempat kami, corengnya yang kalah waktu pilihan, tertutup dengan jabatannya yang kemudian mentereng dengan kelas direktur.

Baca Juga:  The Charm of Kedung Kayang, Natural and Clean Waterfall

——-

Hari ini, dari teve tabung butut, yang gambarnya mulai kalah oleh koloni semut, sosok itu berubah menjadi calon pesakitan yang sedang diburu.

Kami tak lagi melihat kemana garis senyumnya yang selalu mengembang untuk membangun wibawa itu sekarang menguap entah kemana.

Namanya yang familiar, wajahnya yang tak asing, inisialnya yang terus mengiang-ngiang di kepala, kini tak lebih dari sosok pecundang, yang cuma sekedar bisa mengolah keadaan dengan modal ludah.

Kami yang semula awam dengan detailnya, kini menghitung berapa banyak keringat orang lain yang pernah ingin ia wakili ternyata harus memikul beban gaya hidupnya yang busuk dengan amat geram.

Saat ini, sebagai teman, sebagai rakyat yang keringatnya ia gunakan untuk jumawanya, kami cuma ingin melihatnya dengan balutan rompi oranye sebagai gentleman sebagaimana yang selalu ia dan kelompoknya ucapkan kepada kami.

Bisa jadi hari ini, berderet-deret piring bistik yang ada di depan matanya cuma jadi seonggok daging yang tak mewah lagi.

Dari kami, yang selalu tetap dianggap sebagai kelompok marjinal oleh kalian, kami selalu berdoa semoga kamu kuat menjalani ini sebagai fase dari perjalanan mu yang tak lagi muda sebenarnya.

Kami tak tahu harus dengan apa kami bersimpati. Kami juga tak punya relasi pembesar negeri yang bisa membuat sekedar memo agar kamu tak jadi pesakitan.

Bro, dari kejadian ini, kamu bakal paham, mana teman yang benar-benar teman, mana teman yang cuma sekedar teman, yang tak akan pernah lebih berharga dari sahabat.

Leave a Reply