Home > Ngopi > Selesai untuk yang Belum Selesai

Selesai untuk yang Belum Selesai

Kadang definisi gila selalu identik dengan pembiaran yang situasinya amatlah kompleks. Lingkungan bahkan sudah menyebutnya sebagai aib.

Biadabnya lagi ada juga yang menjadikannya sebagai obyek eksploitasi seksual untuk kemudian akhirnya dibiarkan.

Perkara orang gila tak ubahnya perkara orang waras, sama saja di mata hukum, tak ada istilahnya selesai hanya karena dia tak waras, karena hukum bertindak atas sebuah perbuatan.

Hukum kadang membingungkan, kadang malah amat tergantung dengan mood.

Meski korbannya orang yang gila sekalipun, hakikat hukuman sejatinya adalah menciptakan efek jera buat pelaku maupun orang lain yang mungkin punya pikiran untuk bertindak melakukan hal yang sama.

Jadi, hukum (seharusnya) tak melihat siapapun korbannya apalagi pelakunya.

Itulah sebabnya, Themis digambarkan dengan mata yang tertutup, tera yang seimbang dengan pedang sebagai pemutusnya dan terhunus ke arah siapapun yang bersalah.

Kegilaan tak lantas menghilangkan haknya sebagai warga negara untuk mendapatkan keadilan (kalau masih ada).

Kembali kepada nurani sajalah. Di zaman yang sudah tak karuan lagi seperti sekarang ini, nurani menjadi penting sebenarnya. Karena cuma nurani yang masih bisa jadi indikator paling sah bahwa kita ini memang masih manusia.

Karena bukan tidak mungkin mereka yang dituding gila, tidak waras atau apapun, sebenarnya justru jauh lebih sehat daripada kita yang mengaku waras, apalagi jika dikaitkan dengan konteks keadaan.

Logika sederhananya, mereka yang kita anggap sakit secara mental sudah selayaknya mendapat pendampingan dan perhatian secara khusus, terlepas dari faktor lain yang menjadi penyebab ketidakmampuan untuk melakukan itu, maka lingkungan diluar keluarga juga memiliki tanggung jawab yang porsinya seharusnya sama besar, ini kaitannya esensi manusia sebagai makhluk sosial.

Baca Juga:  Mangunan Pine Forest, Enjoying a Peaceful Atmosphere Among the Piles of Trees

Faktanya, mereka yang disebut gila ini bahkan sudah teraniaya sejak pertama kali mereka terasing, oleh mereka yang disebut srigala (homo homini lupus), bahkan sejak mereka berada di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman.

Jadi, kalau seandainya ada orang dengan gangguan kejiwaan lantas diperkosa dan dibiarkan begitu saja sampai akhirnya melahirkan, dan didiamkan, kemudian terjadi lagi (kasusnya), ya sudah, kita yang mendengar, dan melihat peristiwa itu atau bahkan memiliki kuasa untuk menjadi mesin pengadil bukanlah manusia tapi keledai.

Dan, hakikat hak asasi manusia (HAM) yang disebut sudah ada bahkan sejak lahir dan kemudian dibawa sampai mati cuma jadi pelengkap saja.

Termasuk status kekuatan pasal 148 (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebut penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara, yang pada akhirnya cuma sekedar ada.

Kalau sudah seperti ini, kita-kita yang masih diberi sedikit kewarasan dengan sejentik nurani, cuma bisa apa kecuali iba, tak mungkin pula menyarankan ruqyah kepada mereka yang abai.

Jangan pula bermimpi ada orang gila didapuk menjadi pemimpin untuk aturan yang gila pula diantara kita yang masih waras dan menganggap keadaan yang (menyimpang) seperti ini sudah sangat ideal.

Pada akhirnya, nukilan-nukilan ini cuma didedikasikan untuk seluruh orang gila yang masih hidup di bumi dan menertawakan orang-orang banyak disekitarnya dengan tingkahnya yang menurut mereka gila.

Karena, kasus ini sudah bersemayam bersama ribuan atau bahkan jutaan ketidakadilan lain yang sudah seperti bitah-bitah nasi yang jadi santapan sehari-hari dari mereka-mereka yang nirnurani.

Yang ditunggu bagi mereka yang terzalimi dan tidak mendapat tempat dalam keadilan hanyalah karmaphala.

Leave a Reply