Home > Nyatire > Kace, Coki dan Ipul Cuma Bikin Kiamat Makin Dekat

Kace, Coki dan Ipul Cuma Bikin Kiamat Makin Dekat

Trio keterlaluan; Kace, Coki dan Ipul ini memang punya benang merah yang sama. Menganggap apa yang ada di dunia cenderung kekal sehingga nyawanya cuma diisi dengan sensasi ala primitif.

Sekarang, kiamat cuma sedekat pikiran, mengawang-awang dan mengancam. Sementara kita hanya menjadi objek penderitanya. Membangun perspektif pro dan kontra yang tak ada gunanya dan akhirnya menjadi pendosa.

Mereka-mereka ini mencari tafsir yang sebenarnya sudah selesai, lewat mimpi, lewat nalar yang sempit, atau lewat apa saja, asal gathuk untuk sebuah panggung imajiner.

Trio ini jumpalitan dengan ektase eskatik tentang sesuatu yang mereka anggap sudah paling benar.

Melihat Kace yang menyedihkan. Ia seperti tak tahu untuk apa ia ada. Ia mengalihkan garis dosa dengan sesuatu yang entah harus dengan rasa yang seperti apa untuk menanggapinya.

Mungkin, ia ada di dunia juga karena prasangka yang mengarah ke negatif. Atau bisa jadi, konsep penghambaannya takluk hanya soal materi.

Jika hari ini ia meratapi keadaan yang tak memihak kepadanya dan kemudian mengharap iba dengan wajahnya yang lebam. Maka ia tak ubahnya keledai yang sedang menelanjangi kebodohannya sendiri.

Melihat Coki yang menganggap segalanya harus dimaknai dengan kebebasan sementara ia sendiri tak tahu bentuk kebebasan itu seperti apa.

Sementara Ipul terus merongrong rasa iba sebagai wujud paedofil tak bersalah dan kemudian membangun dua kelompok yang saling bersengketa mana benar dan mana salah.

Syahwatnya hanya tentang kekhawatiran duniawi tapi tak tahu esensi dari untuk apa dirinya ada.

Sejatinya, Kace, Coki, Ipul hanya tentang materi dan bermain pada sensasi, pada rasa agar terlihat berbeda, meski Tuhan sebenarnya sudah memberi kenikmatan kepada hamba-Nya bahkan sejak ia lahir sebagai Islam.

Baca Juga:  Prambanan Temple, Hindus Temple with Story of Roro Jonggrang

Untungnya Tuhan tak serta merta murka. Azab hanya tercatat dalam dosa pribadi-pribadi semacam Kace dan Coki yang leluasa bergerak liar kemana saja.

Keyakinan itu tentang ketenangan batin. Ia dibangun melalui kepercayaan yang mutlak sebagai hamba yang pasrah pada ketentuan-Nya.

Meski pernah dibangun dengan jalan pedang, semua itu tak lebih dari proses. Bukan untuk membangun kondisi yang salah dianggap benar tapi lebih kepada ajakan maha baik, bahwa setelah ini ada kehidupan yang bakal lebih panjang, hitungannya bahkan ribuan.

Jadi, Kace sebenarnya tak perlu membangun sebuah diskursus baru, apalagi hanya sekedar untuk mencari pengikut receh sementara ia sama sekali tak membangun fondasi argumennya dengan amat kuat.

Kenyataannya, orang-orang yang pemikirannya terlampau kerdil seperti Kace punya peran besar terhadap rentang hari akhir yang terus saja mendekat.

Dan, sampai kapan pun, mereka-mereka yang fasik baik secara tersirat maupun tersurat akan terus ada, sampai benar-benar mereka sadar bahwa ternyata apa yang ada di dunia adalah sebuah fase yang sebentar.

Karena mereka jadi bagian dari tanda suatu masa yang mutlak. Di saat ketetapan itu sudah pasti, mereka terus saja berusaha menjangkaunya agar semakin dekat.

Umat seperti apa yang nista terhadap Rasulnya sendiri, sementara Muhammad memasrahkan syafaatnya untuk mereka yang berdosa besar.

Umat seperti apa yang takabur kepada Rasulnya sendiri, sementara Muhammad rela menawarkan diri dari sakitnya syakaratul maut untuk umatnya.

Kalau masih sadar, seperti kata Gus Baha, tobat saja, tangan Tuhan selalu terbuka, jangan sampai nanti malah sedang sibuk mengejar dunia tau-tau ninggal.

Kalau sudah begitu, pertanyaan di alam kubur mungkin hanya sekedar formalitas.

tsaqil’ alaiya

Leave a Reply