Home > Nuansa > Penutur Murni

Penutur Murni

angkot

Hanya angkutan kota yang menyangka selalu ada jalan pintas untuk setumpukan uang, karenanya angkutan kota hanya akan berkomunikasi dengan Tuhan mana kala mereka harus berbelok dan kapan mereka harus berhenti.

Angkutan kota adalah sebuah entitas berupa representasi tertawaan betapa hidup itu seperti sebuah roda, mereka hidup dari jalan-jalan yang keras atau malah berlubang-lubang, terkadang menyerobot, menipu, memaki.

Dan tertawa-tawa keras dipojok-pojok warung yang tak terlalu penting untuk sekedar ditoleh kecuali angkutan kota yang berderet-deret terkadang memanjang terkadang beraturan atau malah tumpang tindih.

Mereka adalah gumpalan dari berbagai macam sintesis tentang serapah manusia yang selalu terburu-buru, yang selalu disiplin dengan keadaan, mereka layaknya tak lebih dari segumpal amarah.

Mereka adalah kondisi abnormal dari sebuah aturan yang penuh katebelece, uang yang terselip di izin-izin agar bisa terus bergerak.

Mereka juga tak hendak mencari setitik sinkretisme dalam hidupnya, tidak untuk bermimpi tentang sebuah rumah serba mewah karena semua adalah keras, sama seperti instrumen yang melingkupi mereka untuk melihat anak dan istri mereka tersenyum, aspal, setir dan karat-karat angkutan kota.

Angkutan kota seolah menjadi simbol penutur yang murni, mereka adalah pentas rezeki yang sangat serat membelah 34 kilometer jalan sepanjang hari, menderu kesana kemari dengan ritme alur yang itu-itu saja membentuk sebuah ritual yang kadang ganas untuk sesuatu yang manis.

Bahwa angkutan kota itu cuma berupa sopir, penumpang, setir dan uang, karenanya ia bukan tentang sebuah kebendaan yang acap kali semu.

Ia representasi akan sebuah tuntutan yang dibuat sedemikian rupa sehingga terkesan mendesak, tentang sebuah kepuasan mana kala senyum-senyum yang manis itu menyambut diantara penat keringat yang begitu menyengat.

Baca Juga:  sosok itu

Berlari sekuat-kuatnya mengejar angkutan kota hingga ke gubuknya yang manis, dua anak laki-laki itu menyambut, perempuannya menyajikan teh yang panas tapi manis,wajah keras dan lemas itu seketika lembut, ini puncak dari pergumulannya bahwa perjuangan memang terkadang selalu berujung dengan sesuatu yang manis.

Mereka bukan orang yang menghamba pada angka-angka yang serba absurd, mereka adalah sikap optimis, bahwa hidup memang harus seperti ini tak seperti air yang mengalir begitu saja, mesti ada proses, meski sedikit membosankan tapi setidaknya mereka selalu berkomunikasi dengan Tuhan, lewat cara mereka yang lucu.

Orang-orang permisif ini harus tetap ada, karena angkutan kota selalu mengiringi sejarah meski bergerak di jalan-jalan yang sempit dan becek. Tak penting seberapa canggihnya teknologi yang hendak menelan mereka.

Tentang sebuah seni membuat makian tapi begitu membuat warna di jalan-jalan yang serba hiruk pikuk.

Mereka juga bukan hanya sekedar pelengkap, jika tak ada mereka darimana seragam-seragam itu bisa hidup!.

Leave a Reply