Home > Nyatire > Kangen tapi Ditangkepin, Pitikih

Kangen tapi Ditangkepin, Pitikih

Mereka yang demonstrasi itu bukan sedang cari sensasi tapi menyampaikan aspirasi, jadi biasa saja. Malah bisa jadi itu respon dari kerinduan terhadap sosok yang katanya ingin didemo.

Hari kemarin, kemarinnya lagi, melihat mereka yang menyampaikan ekspresi di jalan dan kemudian ditangkapi itu rasanya kok ya kontradiktifnya kelewatan.

Melihat peternak ayam yang ditangkap di tempat bersemayamnya pendiri bangsa, hanya karena ingin mendapatkan harga jagung yang wajar untuk pakan ternaknya, kesannya jadi terasa aneh.

Padahal tuntutannya amat wajar dan bukan pula makar.

Seharusnya pula, tuntutan yang relatif sepele itu malah bisa menunjukkan eksistensi kuasa seorang kepala sebuah negara, apalagi di zaman pageblug seperti sekarang, istilah ‘negara harus hadir’ itu entah lagi mbolos kemana.

Belum hilang trauma Suroto. Polisi lanjut nangkepin 10 mahasiswa UNS.

Ini kemana demokrasi, berekspresi lewat aksi kecil saja direpresi.

Padahal aksinya cuma kecil dan tidak terlalu menarik atensi malah, mahasiswanya juga segelintir.

Justru akhirnya jadi besar, karena konsepnya salah sejak awal; mengejar tikus lumbung dibakar.

Aksinya nyaris sama seperti Suroto, membentangkan seposter kecil, yang untuk membacanya mungkin butuh waktu sekitar 20-an detik, amat susah untuk sekedar dibaca sepintas lalu, apalagi di dalam mobil yang bergerak dengan kecepatan sekitar 40-an kpj.

Isinya juga tidak sensitif dan tidak ada unsur menghina lambang negara, cuma; ‘Pak Tolong Benahi KPK’.

Padahal lagi, mereka sempat meminta difasilitasi untuk sekedar menyampaikan aspirasi di forum rektor namun ditolak. Padahal ya, banyak kampus di Indonesia bisa besar juga karena gerakan.

Secara linguistik, bahasa di poster bahkan masih terbilang santun untuk ukuran mahasiswa lho ya, karena ada kata ‘Pak’ dan ‘Tolong’ di kalimatnya, Jokowi seharusnya lebih familiar dengan dua kata itu sebagai representasi masyarakat Solo yang santun.

Ketiadaan aspirasi dan ekspresi dari rakyat dalam tata kelola sebuah pemerintahan itu bukanlah indikator yang baik untuk menunjukkan negara sedang baik-baik saja. Toh juga, negara lain sedang punya masalah yang sama dan tak sedang memperhatikan endonesah.

Di forum yang pernah disebut sebagai Sumpah Pemuda jilid dua (2.0), Indonesia Young Changemaker Summit (IYCS) Gedung Merdeka, Bandung (2012), Jokowi yang kala itu baru saja terpilih sebagai Gubernur Jakarta mengaku kangen di demo.

“Saya kangen sebetulnya didemo. Karena apa? Apapun, apapun, pemerintah itu perlu dikontrol. Pemerintah itu perlu ada yang peringatin kalo keliru. Jadi kalau enggak ada demo itu keliru. Jadi sekarang saya sering ngomong di mana-mana ‘tolong saya didemo’. Pasti saya suruh masuk,” kata Jokowi.

Refresentasi kangen itu bukan hanya mewakili identitas pribadi tapi seharusnya juga jabatan. Apalagi, mereka-mereka yang dipilih oleh rakyat dianggap bisa merefrensentasikan aspirasi rakyat termasuk menjaga konsistensi ucapannya.

Suatu ketika sebuah situs pernah menyandingkan Presiden Jokowi dengan Jose Mujica, Hugo Chaves, Evo Morales, Mahmoud Ahmadinejad.

Dan mungkin terhadap pemimpin di dunia lainnya yang dibangun dengan framing positif dalam kaitan kebijakan yang berpihak untuk rakyat.

Menganggap mereka ideal, terhadap Jose Mujica dan Ahmadinejad sebagai sosok pemimpin sederhana. Ataupun Hugo Chaves dan Evo Morales yang membangun pemerataan ekonomi, tapi entah untuk rakyatnya sendiri.

Pada kenyataannya tak ada yang ideal, semua orang termasuk mereka yang disebut miskin pun punya kepentingan, tapi setidaknya ada tanggung jawab moral sebagai pejabat publik, sekedar mendengarkan atau cukup melirik saja.

Tenang saja, aksi-aksi demonstrasi baik yang bergelombang atau hanya sekedar riak yang terjadi akhir-akhir ini meski tanpa reaksi, itu bukanlah akhir dari perjuangan.

Karena diluar sana masih terlalu banyak aksi-aksi yang tetap berlangsung, meski tanpa reaksi pasti kadang hanya cuma gimick, namun aspirasi harus tetap diekspresi.

Belajarlah dari Aksi Kamisan; sebuah ekspresi dalam diam yang kenyataannya dibalas dengan reaksi yang diam pula.

Leave a Reply