Home > Nyatire > There is No Plan(et) B

There is No Plan(et) B

greta thunberg

Remaja berkepang itu hanya duduk di selasar, memandangi setiap yang lewat dengan mata yang nyala. Tak ada yang peduli, tetapi menertawakan.

Dengan dua kata yang selalu setia mendampinginya ‘skolstrejk for klimatet’ di tiap Jumat yang dicita-citakan sebagai sebuah awal dari masa depan.

Lucunya, gerakan ini harus dipicu hanya dari seorang anak perempuan kecil, yang kemudian membuat semua orang terperangah atau mungkin hanya trance sesaat, untuk sekedar berbaur dengan euforia.

Tintin Eleonora Ernman, putri tertua Svante Thunberg, yang selalu merutuk tiap kali pesawat melintas diluar jendela kamarnya.

Dan, memilih mengarungi laut dan samudera sejauh ribuan mil dengan perahu layar hanya agar jejaknya bebas emisi.

Pengidap asperger yang cenderung introver ini seketika menjelma seperti singa ganas dihadapan para pemimpin-pemimpin dunia yang tak ubahnya sekumpulan hyena, lewat luapan amarahnya yang amat mengutuk sikap mereka yang seharusnya amat bisa diandalkan.

Aksinya menjadi nyali baru ditengah kegamangan terhadap sebuah keadaan genting yang dianggap pemimpin dunia hanyalah aktivitas seremoni biasa yang sesekali dieksploitasi menjadi uang, all you talk about; is money.

Kemarahannya menjadi wajar karena Thunberg adalah pewaris sah bumi setelah yang tua dan berkuasa mati. Everything count, what you do counts.

Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg seolah menjadi mesias, lewat aksi bolos sekolah di hari Jumat setiap pekannya, Friday for Future. Ia hanya diam tepekur dan memendam marah lewat raut wajahnya.

Ia konsisten, tak ada tendensi apapun. Kesadarannya sudah dibangun sejak usianya masih 8 tahun, saat seharusnya anak seusianya masih larut dalam euforia masa kecil.

Dan, delapan tahun kemudian, saat tingkat kematangannya sudah amat mumpuni terhadap iklim, ia merendahkan semua mereka yang kerap dikultuskan sebagai manusia setengah dewa tak lebih dari sekumpulan pencuri.

Yang kemudian menginspirasi jutaan gerakan aksi terhadap perubahan iklim yang sangat masif, i dont care being popular, i care bout climate justice.

Di Amerika, Haven Coleman (13) dan Irsa Hirsi (16) melanjutkan gerakan climate strike. Sementara di Belanda, Lilly Plat (11) melakukan aksi Lilly Plastic Pick Up.

Di India, Asheer Kandhari (15) berani mendesak Perdana Menteri Narendra Modi untuk segera menetapkan status bahaya akibat perubahan iklim dinegerinya.

Diksinya tegas, bahwa krisis yang tengah mengancam bumi tak akan pernah selesai hanya dengan konferensi dan konferensi semata, tapi harus menempatkan krisis itu sebagai sebuah keadaan serius yang disikapi dengan gerakan.

There is no plan b, jika seandainya bumi ini hancur maka akan dialihkan kemana penduduk bumi yang ditinggali lebih dari semilyar nyawa, sementara dunia sudah kian sekarat.

There is no planet B, meski Bezos sudah ke luar planet Bumi. Tak ada tempat di luar angkasa sana yang ramah untuk manusia, menaklukkan gravitasi saja manusia tak mampu.

Kemarin, hari ini, besok dan yang akan datang, Greta akan selalu hadir dengan muka yang masam. Ia bakal menjadi introver garang yang selalu dengan tatapan yang tajam.

Ia menikmati setiap ucapan yang mengarah ke gerombolan si berat sebagai bentuk sinisme, atau mengejek mereka sebagai kumpulan kodok yang hanya nyaring di bagian dalam rongga mulutnya saja, dengan tarian frog dance ala Swedia yang lucu.

‘Buat kami, apa gunanya selalu belajar tentang apa itu kemanusiaan, sementara besok atau lusa kita semua tidak bisa lagi hidup di bumi ini!’

Leave a Reply