Home > Nuansa > sosok itu

sosok itu

sosok itu

Dari balik kaca lusuh masjid yang retak, jemaah hanya tiga kepala dengan rentang tiga pasang kaki yang tak sampai tiga meter, jauh lebih pendek dari saf-saf yang berjajar memanjang.

Sajadahnya lusuh, jauh lebih lusuh dari dinding-dinding yang kusam dengan bola dari tanah, telapak-telapak tangan dan jejak-jejak kaki yang seperti merayap di dinding.

Tubuh rapuh itu hanya bersandar di sisi mimbar, memekikkan adzan dengan terbata-bata, menahan sakit, menahan kekecewaan, bagaimana mungkin binatang bisa berwujud seperti manusia kepada orang-orang disekitarnya.

Karena orang-orang telah begitu mendidik nafsunya dengan jejalan kepentingan, dengan sederet gelar yang ternyata hanya berujung pada ambisi yang tak kunjung selesai.

Dan, rumah Tuhan dikesankan hanyalah sebuah bangunan yang aneh untuk itu semua, benda berwujud ini dianggap seperti simbol semata, untuk seremoni-seremoni yang terkadang menimbulkan keterpaksaan yang amat.

Ketika itu, telinga hanya dan berubah berfungsi sebagai mata, melihat dengan malu, merasakan betapa orang pikun dengan kain sarung yang compang bisa menjadi penerang yang teduh.

Ia juga seperti guru yang menelanjangi waktu sepertiga abad ini dengan ketololan perilaku, kedunguan sikap dan ketiadaan etika.

Manusia terkadang menanggapi dengan salah, untuk apa ia ada, untuk apa simbol-simbol itu semua. Selalu menganggap bahwa tubuh hanya terdiri dari organ-organ, darah dan nafas, tanpa melihat dari apa asal itu semua.

Sampai kapan pun juga, suara kesakitannya akan tetap ada, tak pernah kalah dengan ambisi, kepentingan dan nafsu, walau hanya terkesan sebagai simbol penanda sebuah rentang masa yang sangat pendek, walau suaranya lirih, walau harus bersandar di sisi mimbar.

Orang tua itu hanya sekali saja tak datang, ketika itu orang-orang bahkan tak menghiraukannya atau bahkan melupa, apakah ia akan datang atau tidak sama sekali.

Baca Juga:  08.00

Untuk bisa sampai, ia harus berjalan dengan tapakan langkah yang pelan sekali, untuk menjaga agar sandal jepitnya tak rusak, supaya penyakit tuanya tak merongrongnya terus.

Dia sengaja datang 30 menit lebih awal, untuk sampai lima menit lebih cepat, membagi suaranya sejauh gaung suara dari pengeras yang reot.

Memberitahu kepada semua orang yang mendengarnya.

Mungkin sampai ia tak bisa berjalan lagi, atau mungkin sampai ia tak punya sandal lagi untuk membawanya, sampai di titik itu, sesungguhnya ada kehilangan yang besar dari sosok yang mengalahkan sosok manapun sekalipun itu pemimpin negeri ini.

Sosok imam masjid yang juga muadzin yang setengah dari hidupnya hanya untuk mengingatkan semua orang melalui corong masjid tanpa sikap ambigu, bahwa hidup tak hanya ambisi, bahwa ada hal yang terkadang dianggap sepele, tapi dari kausa itu semuanya bisa ada.

Hayya ‘alal falaah…

 

Leave a Reply