Home > Nuansa > 08.00

Semuanya memburu, bergegas dan tergesa-gesa, tapi tertinggal satu orang tergeletak tak berdaya, kakinya patah darah dimana-mana, tergeletak di tengah jalan, merintih, mengaduh tapi tak ada yang perduli.

Ia cuma seperti jalan yang berlubang saja, harus dihindari.

Tukang becak memburu dengan tumpukan sayuran yang berjejal, gerobak sampah yang baru saja keluar, dua truk yang berjalan beriringan.

Sepeda-sepeda motor yang seperti berkejaran, pedagang nasi uduk yang sibuk, angkutan kota yang sembarangan.

Tiga mobil dinas yang biasa saja, mobil-mobil pribadi yang seperti menganggap semuanya tidak ada.

Semuanya redam dengan sedikit saja tolehan kepala di balik helm, dibalik kaca-kaca mobil antipanas, dibalik kebutuhan-kebutuhan yang mendesak semuanya seperti intermezo yang tak perlu.

Kaki yang banyak mengeluarkan darah itu akhirnya benar-benar tak berdaya di tengah ketidakperdulian itu semua, tubuh itu bergerak perlahan meringis bahkan harus menghindari lalu lalang yang bising, menepi sendiri.

Semua orang tak perduli, semua orang punya kebutuhan, dan mungkin mereka yang lain pun akan tak hirau jika mereka tergeletak di aspal dengan kaki yang patah berdarah seperti itu.

Bahwa di dunia ini ambisi telah menginjak dalam-dalam rasa iba yang memang masih tersisa tinggal sedikit saja lagi. Semuanya sudah seperti mesin-mesin robot modern yang menganggap yang jatuh sebagai robot yang rusak dan mengganggu saja.

Pukul.08.00, saat kepentingan mekar, berdoa agar jangan terjadi apa-apa karena kita bukan siapa-siapa diantara orang-orang yang lain, demikian pula mereka. Besok pun demikian, darah yang hanya disiram dengan pasir agar yang kemarin cepat hilang dan tak perlu.

Semuanya pun kembali bising, memburu, bergegas, tergesa-gesa dan akan ada lagi yang tergeletak mengulang ritme di tempat yang berbeda untuk kembali tak perduli, lagi.

Baca Juga:  sosok itu

Leave a Reply