Home > Nuansa > Gang Jogja

Gang Jogja

gang jogja

Gang Jogja bukanlah semata entitas, ia ada justru disekitar kita, sangat dekat sekali tapi kita tak pernah hirau dengan wujud-wujud renta yang begitu menghargai tanah sebagai simbol kembalinya manusia.

Mereka hanya seperti hantu yang tak gentayangan, tinggal di satu titik yang terhimpit, Gang Jogja.

Kampung ini, kecil dan tempat orang datang dan meminta makan, tempat orang kembali kemudian pergi lagi, tempat untuk mengingatkan orang tentang tanah, tempat ia, kita kembali.

Dan jompo-jompo itu masih tetap membuat tembikar seperti biasa karena mereka harus hidup untuk sebentar, orang-orang tetap berlalu lalang, anak-anak tetap berlarian di gang yang sempit, kamar mandi di muka rumah, ruang makan yang bertabrakan dengan kakus dan kebaya-kebaya lusuh yang setiap pagi selalu meneteskan air dari jemuran.

Ia nyaris tanpa denah cuma setitik noktah hanya sekedar ada bukan juga sekedar pelengkap, orang-orang menganggap sama seperti perkampungan kumuh yang tak ramah, sedikit lebih rendah dari sepiring lontong sayur.

Denyut dimulai sangat pagi sekali, uban-uban itu seperti tepekur di sudut-sudut rumah yang sempit, tersudut dari keadaan yang mendesak sehingga lunglai tubuh yang keriput terus menuntut agar harus tetap hidup dan bertahan dengan cara apapun meski dari tembikar-tembikar.

Gentong-gentong, pot bunga, celengan ayam yang serba purba pun menjadi tanda dari sebuah proses yang pikun untuk tetap bergerak meski uzur dan bahkan mungkin maut sudah semakin dekat saja.

Mereka, orang-orang yang tak tahu apa itu inovasi, apa itu tuntutan pasar yang mereka tahu adalah fungsi itu sama saja apapun bentuknya apapun inovasinya, dan mereka butuh makan.

Pergi lagi, terjebak macet, menggerutu, menyumpah, mobil-mobil yang berjubel, sepeda motor yang padat, semua merayap bergerak seperti kura-kura dan Gang Jogja tetap saja disitu.

Baca Juga:  sosok itu

Kampung atau Gang Jogja ini, menunggu mereka dengan harap, satu persatu perlahan-lahan mati entah kampung ini tetap terapung atau tenggelam setelah mereka yang renta perlahan-lahan mati dan tak meninggalkan apa-apa, tenang, sunyi, kecuali tembikar itu.

 

Leave a Reply