Home > Nyatire > Saipul Jamil dan Kita yang Masih Mewarisi Keramahan Nenek Moyang

Saipul Jamil dan Kita yang Masih Mewarisi Keramahan Nenek Moyang

saipul jamil

Saipul Jamil disambut bak pahlawan yang pulang dari medan perang. Prosesinya bahkan melalui protokoler yang diseting sedemikian rupa agar ia tercitrakan sebagai sosok pencabul yang teraniaya. Dengan simbol warna putih yang seperti sedang membangun imaji bahwa ia sebenarnya tak bersalah.

Framingnya dibangun sedetail mungkin, bahkan ada sedikit introdusir lewat atribut yang ia kenakan. Karena ia percaya, ketenaran harus terdiri dari benci dan suka.

Secara entertaint, apa yang diseting manajemen Kang Ipul jelas sukses. Tapi, secara mental, mereka yang menyambutnya dengan gempita jelas sedang sakit.

Ini bukan bagian dari euforia pro dan kontra terhadap sosok Saipul Jamil yang hadir saat rakyat sedang dibuat susah karena Corona. Tapi lebih kepada, sikap kita yang ternyata masih mewarisi keramahan nenek moyang, yang begitu mudah menerima siapapun dengan ikhlas dan tangan yang terbuka, termasuk kepada penjajah dengan senjata yang terhunus sekalipun.

Manusia penyimpang ini di rias begitu sayu untuk mencitrakan kekejaman apa yang sudah ia jalani. Membuat apa yang ia kenakan sebagai simbol yang tersirat untuk mendulang simpati.

Tak ada sepatah kata maaf terhadap apa yang pernah ia lakukan, sebaliknya ia tengah membangun sosoknya sebagai manusia paling dirindu.

Media menjuranya hanya demi rating yang tak peduli dengan latar.

Ada kesan yang ingin dibangun, Saipul Jamil hari ini bukanlah Saipul Jamil yang dulu paedofil. Lucunya, kesan itu bukannya justru hilang tapi kian menguatkan ingatan terhadap apa yang ia lakukan, termasuk menyuap hakim agar tindakan paedofilnya bisa ditolerir.

Ini seperti second opinion yang dipaksa memihak. Sementara korbannya disana, masih membangun mental dengan tertatih, Saipul Jamil disambut dengan seunit Porsche dengan kabin terbuka lengkap dengan bunga artifisial yang meriah.

Sampai hari ini, lini massa masih mendebatkan sosoknya sebagai sesuatu yang sama sekali tak perlu, sebenarnya. Vonis—yang kali ini bertindak benar—seharusnya sudah mewakili siapa sesungguhnya Saipul Jamil.

Dengan hati nirlogika, pembelaan terhadap Saipul Jamil lebih menitik pada manusia sebagai makhluk tempat kesalahan ada, hanya agar mereka yang kontra membuka hati dan kemudian menganggap apa yang telah ia lakukan tak pernah ada.

Saipul Jamil pintar memanfaatkan momen dan karakter manusia Indonesia yang pemaaf dan mudah melupakan sesuatu dengan cepat. Sesuatu yang mungkin by design ini jelas punya efek buat Saipul Jamil dan pasti selalu materi yang jadi indikatornya.

Saipul Jamil tak ubahnya badut yang meramu suka dan tidak suka untuk mendulang popularitas sebagai sensasi seperti umumnya karakter pesohor hiburan kita, yang unskill hidup dan berhasil kaya raya dari memainkan isu dengan sangat cantik.

Tak seharusnya, Saipul Jamil berdiri di kamera yang mengarah kepadanya dan menganggap semuanya sudah selesai. Bukan soal apa yang telah ia tebus dengan penjara. Tapi tak layak rasanya menempatkan diri sebagai yang teraniaya, sementara disisi lain ada orang yang dengan susah payah bertahan hidup bahkan untuk sekedar berdiri.

Bahwa masih ada pewaris generasi lalu yang marah kepadanya. Dan yakin bahwa dia bukan siapa-siapa yang tanpanya dunia tetap berjalan seperti biasa bahkan bisa jadi jauh lebih baik seandainya dia masih di dalam sana. Percayalah, ini bukan sangsi moral. Tapi konsekuensi logis dari tindakan menyimpang, yang bagi banyak orang akan terasa sulit untuk bisa dimaafkan.

Dunia seperti apa yang masih memberikan tempat kepada paedofil sepertinya.

Leave a Reply