Home > Ngliwon > Teror Nenek Bela

Teror Nenek Bela

teror nenek bela

Wajah dan kulitnya hitam legam, matanya melotot. Berjalan pelan sekali, tapi kedua lengannya sama sekali tak mengayun, tak seperti manusia melainkan seperti ondel-ondel

Saya tinggal di kontrakan yang bentuknya seperti cluster, meski hanya kontrakan, tapi pengelolanya menata kontrakannya seperti perumahan cluster apik dan rapih. Sewa pertahunnya memang lumayan mahal apalagi untuk ukuran saya yang cuma driver ojol, tapi tak apalah.

Lingkungan kontrakan ini saya anggap baik untuk perkembangan dua anak saya yang masih balita. Tidak terlalu bising, bentuknya yang cluster membuat saya tak khawatir saat anak saya bermain di depan rumah, jalan aspal kontrakan yang lebar punya banyak space meski anak-anak bermain di jalanan komplek itu.

Tapi ternyata, dibalik keasrian kontrakan itu tersimpan teror yang sempat menjadi momok bagi warga komplek, termasuk keluarga saya ketika diawal-awal tinggal di tempat itu.

Saya coba deskripsikan bentuk kontrakan bercluster ini; jika dilihat kontrakan ini seperti membentuk huruf E, dibangun tepat di tengah persawahan dan agak menjorok ke dalam sehingga agak eksklusif dari permukiman penduduk sekitar.

Akan halnya perumahan cluster, sekeliling kontrakan di pagar beton. Ada pos satpam di dekat pintu masuk komplek yang menghadap langsung perumahan di bagian blok A yang melebar ke kanan.

Blok B beradu pantat dengan blok A, kemudian dipisah jalan, kemudian blok c memanjang, blok d dan e juga beradu pantat dan blok f.

Setiap blok terdiri dari 8 kontrakan, tapi tak semuanya terisi. Di blok a, hanya ada 5 kontrakan yang terisi, tapi tak berurutan, ini karena pengelola kontrakan memberi kebebasan memilih kepada calon pengontraknya.

Di blok a, rumah yang terisi hanya, a1, a3, a4 dan a5, sedang saya dan keluarga di blok a8 yang paling ujung. Kontrakan a2, a6 dan a7 kosong tak berpenghuni.

Sedangkan blok b,c,d, e dan f pun demikian, tak semuanya terisi. Akibatnya, banyak kontrakan yang kosong dan dibiarkan tak terawat karena pengelola baru akan memperbaiki kontrakan jika ada penghuni baru, anak-anak sering memanfaatkannya untuk bermain, biasanya bermain petak umpet.

Nah menurut cerita, dua tahun lalu, di blok b1, tinggallah Mbak Santi, masih lajang dan pekerja swasta yang berusia sekitar 30-an tahun bersama ibunya, yang belakangan diketahui menderita sakit jiwa. Konon kabarnya, si ibu gila karena diguna-guna.

Repotnya, seringkali ketika Mbak Santi sedang bekerja, ibunya kerap kali kumat. Saat kumat, ia akan mengamuk dan sering mengucap kata-kata kasar. Penghuni kontrakan lain sering terganggu saat ibu ini kumat, tapi tak berdaya karena takut dan memilih berdiam di dalam rumah. Saat kumat, wajah ibu ini juga terlihat tak biasa, wajahnya terlihat lebih legam dan selalu melotot.

Soal ini warga sempat komplain ke pengelola, tapi pengelola selalu meminta pengontrak untuk melapor kepada satpam, yang jadi masalah satpam di perumahan ini, kerap kali absen.

Lama-kelamaan tingkah ibu ini akhirnya dianggap biasa oleh warga mungkin karena jengah, melapor ke pengelola tak ditanggapi, mengeluh ke Mbak Santi yang anak kandungnya juga malah mengundang iba, karena ia sendiri bingung, harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan, ia dan ibunya itu.

Warga pun sampai punya panggilan sendiri untuk ibu ini; Nenek Bela. Bela sendiri kependekan dari Bebay Lawang yang dalam bahasa Lampung berarti perempuan gila. Panggilan ini bermula dari grup WA khusus ibu-ibu komplek disini. Sebagai pesan broadcast kepada ibu-ibu yang lain khususnya saat ia sedang kumat,”jangan keluar dulu, amanin anak-anak, nenek Bela lagi ngamuk”.

Takdir berkata lain, empat atau lima bulan tinggal disana, nenek bela meninggal dunia. Agak dilema memang, disatu sisi warga lega karena tak lagi mendengar dia ngamuk-ngamuk tiap hari, tapi juga tak enak hati rasanya bersuka cita saat Mbak Santi sedang berduka.

Tapi ternyata, dari situlah teror bermula.

Kelegaan warga tak lama, beberapa hari setelah nenek bela meninggal, ada rumor dia gentayangan. Beberapa warga, khususnya yang pulang bekerja di malam hari kerap melihat sosok yang mirip sekali nenek bela disalah satu rumah yang kosong. Hanya diam saja. Karena hitam, sosoknya hanya terlihat seperti siluet, tapi warga sudah amat kenal dengan perawakannya yang mirip dengan nenek bela.

Tak hanya itu saja, ada dua peristiwa penting sebenarnya, yang membuat warga benar-benar percaya hantu nenek bela gentayangan.

Ceritanya, Pak Rudi, warga yang tinggal di blok b4 atau empat rumah dari rumah almarhumah, malam itu sedang asyik nonton bola sampai tengah malam.

Saat sedang seru-serunya, ia mendengar jendelanya diketuk. Ia masih acuh, karena masih serius menonton bola, tapi suara ketukan itu seperti tak berhenti malah semakin kuat. Maling tak mungkin pamit dulu,’ pikir Pak Rudi.

Setengah dongkol, ia menuju ke ruang tamu dan langsung menyibak gorden jendela. Dan, wajah nenek bela sedang melotot kearahnya. Spontan Pak Rudi lari masuk ke kamar. Rupanya teror tak berhenti, sekarang jendela kamarnya yang diketuk, pak Rudi meringkuk memeluk istrinya.

Saat suara ketukan di jendela masih terdengar, pak Rudi merasa tangannya dicolek, saat ia berbalik melihat, ternyata nenek itu sudah di dalam kamar disamping dipannya,”tevenya belum dimatiin pak”. Pak Rudi pingsan total.

Warga lain geger mendengar cerita dari istri Pak Rudi. Malamnya suasana mulai mencekam, baru pukul 8 malam tapi komplek sudah lengang. Satpam perumahan yang sengaja dipaksa untuk berjaga di komplek malah ikutan ciut saat tahu alasan warga memaksanya berjaga.

Teror kedua adalah ketika anak-anak sedang bermain petak umpet, di salah satu rumah yang kosong. Tiba-tiba sosok itu berjalan pelan ke arah kamar mandi, spontan anak-anak menjerit, menangis sejadi-jadinya sampai orang tua masing-masing menjemput, padahal masih pukul 5 sore.

Nah, tahun berikutnya, saya dan keluarga tinggal di komplek ini di blok a8. Saya sengaja memilih rumah paling sudut ini, karena posisinya hook sehingga ada sisa lahan, jadi saya bisa menanam kacang tanah dipekarangan, belakangan saya baru tahu kalau ternyata rumah yang saya tempati beradu pantat dengan rumah nenek bela dulu.

Saya dan istri belum tahu soal teror itu. Tapi, malam pertama kami tinggal, Idris anak bungsu saya yang berumur hampir 2 tahun rewel, istri mengira Idrisrewel karena mau tumbuh gigi. Anehnya, setelah itu beberapa kali Idris selalu menunjuk sudut kosong ruang jemur pakaian di belakang rumah kami,”itu oyang ya?.

 

Semula kami tak percaya dengan hal-hal seperti itu. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian sepulang dari ngojek jam 2 dini hari, ketika memasuki komplek kontrakan, saya melihat tepat di depan rumah saya ada sosok berdiri. Saya mengira itu satpam perumahan, tapi semakin dekat, saya lihat sosok itu memakai daster, rambutnya pendek, wajahnya hitam. Ia sedang melotot ke arah saya.

“Bu,” sapa saya sambil tersenyum.

Dia diam, tapi masih melotot kepada saya. Saya kikuk, kemudian dia berbalik pergi ke arah komplek belakang. Jalannya pelan sekali, anehnya saat berjalan lengannya tidak mengayun layaknya orang pada umumnya yang kalau berjalan, lengannya pasti ikut mengayun.

Karena capek, saya tak bercerita apa-apa kepada istri soal sosok itu. Saya malah tak memikirkan apa-apa.

Tapi, pertemuan awal itu rupanya berlanjut. Setiap pulang dari ngojol, saya selalu bertemu sosok itu, tempat penampakannya pun mulai tak menentu. Pernah saya melihatnya di pos satpam yang kosong, sedang berdiri memandangi saya, tetap dengan melotot, saya hanya senyum. Kadang saya, melihatnya sedang berjalan di depan motor saya, jalannya tetap sama; pelan dengan lengan yang tak mengayun. Saya acuh saja, karena kesal, dia selalu melotot marah kepada saya, padahal saya tak mengenalnya.

Pertemuan terakhir ini yang mulai membuat saya kesal, dia saya dapati tengah berdiri mematung tepat di depan pintu rumah tepat saat saya baru sampai. Matanya masih melotot kepada saya. Kadung kesal, motor saya parkir di depan rumah dan segera menghampirinya karena dia sudah masuk ke rumah saya.

“Ibu ini ada apa!. Ada masalah dengan saya? atau dengan istri saya?”.

Istri keluar karena mendengar suara saya dan langsung membuka pintu.

“Ada apa yah?”

“Bun, kamu ada masalah dengan ibu ini?”

“Ibu mana?” kata istri saya heran

“Ini!, kok mana,” sergah saya.

Istri saya heran dan meminta saya masuk. Saya diam tapi masih terus memandangi sosok itu,”Ayah ayo masuk, ngapain berdiri disitu” ujar istri saya.

“Ibu ini gimana?” kata saya masih bingung dan melihat ke arah istri.

“Ibu yang mana? ayah ini kenapa sih,” istri saya mulai kesal.

Waktu saya berpaling ke arah ibu itu yang padahal jaraknya kurang dari dua jengkal dengan saya, dia sudah tidak ada, saya semakin bingung.

Malam itu saya tak tenang, perasaan saya mulai tak nyaman. Saya mulai mengait-ngaitkan dengan banyaknya kontrakan yang kosong sehingga jadi sarang makhluk halus.

“Bun, sudah berapa hari ini saya liat ibu-ibu rambut pendek, kulit hitam yang selalu melotot seperti marah ke saya. Tadi, saya liat ibu itu di depan pintu rumah, makanya saya tanya ada masalah apa,” terang saya kepada istri.

 

“Saya nggak liat ada orang lain selain ayah kok tadi,” jawab istri yang mulai tak nyaman.

Saya mulai yakin itu bukan manusia. Sebenarnya, saya tak takut dengan penampakan-penampakan seperti itu. Soalnya, waktu masih menjadi jurnalis, saya pernah ditampakkan serombongan pocong di tengah hutan.

Tapi, yang membuat saya penasaran kenapa sosok itu seperti marah dengan saya. Apakah ada yang salah dengan saya, istri saya atau anak-anak.

“Kamu yakin bun, nggak ada masalah. Apa anak-anak pernah ngapain atau main dimana gitu?

“Nggak yah, anak-anak juga seringnya cuma main di teras rumah”.

Saya masih belum puas, lelah sehabis ngebid seharian tak lagi membuat ngantuk. Saya menyeduh kopi kemudian duduk diteras sambil merokok,  istri sudah tidur.

Saat antara melamun dan memikirkan kejadian tadi, tiba-tiba rokok diselipan jari saya terasa seperti ditarik dengan kuat, tapi refleks jari telunjuk dan jari tengah saya berusaha menjepitnya dengan keras. Spontan saya berdiri, karena tidak ada siapa-siapa. Tapi, di depan jalan, saya mendapati sosok itu berjalan pelan tetap sama kedua tangannya sama sekali tidak mengayun seperti menempel ditiap sisi tubuhnya.

Saya kejar, tapi hilang di rumah kosong di blok b1. Saya hanya memandangi rumah yang gelap itu.

Besoknya, saya segera mencari tahu. Ini masalah besar menurut saya. Harus tuntas, saya khawatir malah membahayakan anak-anak saya.

Bertanya ke pengelola kontrakan pun jawabannya tak memuaskan saya, malah saya merasa ada yang ditutup-tutupi. Semula saya berpikir akan mengancam pengelola kontrakan untuk pindah, tapi saya teringat ada salah satu perjanjian saat mau mengontrak rumah itu, bahwa pengontrak rumah yang bermaksud pindah sebelum masa sewa kontrakan berakhir maka uang tak bisa dikembalikan. Saya urung dengan ancaman itu.

Akhirnya saya mendapat jawaban setelah bertanya ke warga.

“Baru tau ya mas. Itu nenek bela. Tadinya, dia sama anaknya ngontrak di blok b1 pas dibelakang rumah masnya. Tapi, setelah ibu itu meninggal, anaknya pindah entah kemana, hantu ibunya malah betah disini,” terang pak Sutrisno, penghuni kontrakan di blok a1.

Pak Sutrisno juga menjelaskan panjang lebar termasuk teror-teror yang pernah melanda warga lainnya.”Makanya kalau malem, komplek ini sepi”

Saya baru ngeh setelah mendapat cerita itu semua. Istri saya bahkan mendapat penjelasan yang lebih lengkap dari ibu-ibu di komplek itu.

Sejak itu saya mulai waspada. Saya upayakan ngebid lebih pagi agar pulang juga tak terlalu malam. Saya juga tak mengejar harus tupo yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit untuk menabung, yang penting bisa pulang lebih sore.

Jam ngebid yang berubah itu memang berpengaruh. Sudah tiga hari, nenek bela tak mewujud setidaknya saya tidak melihat sosoknya.

Sampai akhirnya…waktu itu masih pukul 8 malam. Tapi saya sudah dirumah. Seperti biasa saya mencuci jaket ojol saya biar besok pagi bisa kembali dipakai, di ruang jemur belakang rumah.

Satu dua menit masih aman, waktu mulai menyikat jaket, telinga saya seperti ditiup dengan kuat. Saya menoleh, wajah sang legenda komplek itu hanya beberapa centi dari wajah saya, masih dengan kulitnya yang legam dan mata yang melotot, dia diam saja, saya tak bisa bergerak, kami hanya berpandangan.

Entah berapa lama suasana itu, kemudian sang nenek bela berbicara pelan,’saya temani ya mas’.

Saya tak ingat apa-apa lagi….

Leave a Reply