Home > Ngopi > Coki dan Perdebatan yang Seharusnya Sudah Selesai

Coki dan Perdebatan yang Seharusnya Sudah Selesai

coki

Sejak awal kemunculannya di panggung stand up, tak ada yang istimewa, mungkin itu yang membuat dia (terpaksa) harus sarkas dengan agama, punya dia dan orang lain, agar terlihat ada peran saja, sebenarnya.

Coki merasa seperti mewakili Nietzsche yang menganggap komunitas besar bernama dunia ini sudah terlalu lama tunduk pada sesuatu yang dianggap oleh komunitas kecil termasuk dirinya sebagai nihil, yang membuat segala kemampuan besar manusia yang seharusnya bisa lebih luas pada akhirnya berada pada ruang lingkup yang serba terbatas.

Agama sebenarnya, sesuatu yang seharusnya sudah dianggap selesai, bahkan sejak perdebatan itu mengarah kesana. Karena, ia konsep yang menata keimanan termasuk cara memaknai Sang Causa Prima dengan ibadah yang menjadi medium penyampainya.

Jadi bagaimana mungkin wujud syukur dan tanda keimanan seseorang dipermainkan begitu saja olehnya, sementara urusan itu pakemnya, hanya antara hamba dan Tuhannya yang tahu. Ia tak seharusnya mencampuri apa yang orang lain yakini.

Ia sudah jauh tak layak sebenarnya, dan kian terlihat keterlaluan, ketika babi campur kurma dianggap sebagai bentuk kelucuan biasa dan kemudian kita dipaksa bersikap permisif kepadanya bahwa itu bagian dari dark comedy yang definisinya saja sebenarnya tidak terlalu jelas.

Karena secara telanjang, Coki jelas sedang memainkan simbol yang membawa siapapun bermain di alam imajinasi yang sudah pasti. Semisal, bayi tiga tahun yang rasa-rasanya sudah sangat paham bahwa sepatu hak tinggi itu milik siapa.

Manusia itu, adalah aturan itu sendiri. Bahwa pada perkembangannya ia terlalu melenceng sangat jauh, lingkungan tak melulu memainkan peran dominan, karena sejatinya ada cipta dan rasa dalam tiap manusia serta akal yang membentuknya seperti sekarang.

Sekali lagi, Coki seperti sedang memaksa atau lebih mendorong kehendak bebas yang ia yakini, di negeri yang meski menghargai kebebasan berpendapat tapi bukan lantas untuk bertindak bablas.

Sebagai individu, ia memang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Tapi, sebagai makhluk sosial ia juga wajib menciptakan keteraturan bukan justru kegaduhan yang menyudutkan keyakinan tertentu yang sengaja ingin direndahkan hanya karena ada faktor lain yang membuatnya benci, apalagi terlalu naif jika hanya sebatas kepentingan konten.

Terlepas ia memilih menjadi sekuler, itu terserah, karena menyangkut pilihan pribadi yang orang lain tak berhak campur. Tapi, demikian sebaliknya ia kepada yang lain. Karena, perkara keyakinan bukanlah sesuatu yang lucu.

Terkadang jengah pula, melihat sesuatu yang cenderung dipaksa lucu, hanya agar penikmatnya melepaskan hormon dopamin, sama ketika sugesti dia bahwa tindakan yang salah harus dilakukan dengan cara yang nyeleneh pula.

Entah kenapa, sebagian manusia cenderung terlalu ekspresif untuk sebuah sensasi sesaat. Berbagai cara dilakukan untuk kiblat yang sebenarnya terlalu samar dan ambigu.

Terkadang, orang-orang bertindak terlalu bodoh untuk sesuatu yang ia anggap benar. Untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ia ketahui untuk apa seharusnya dia berbuat.

Untuk ini, terkadang harus pula bertindak sedikit benar dihadapan orang-orang yang terlihat bodoh.

Mudah-mudahan ia sedang berproses. Tak berproses pun terserah. Karena sejak awal, saya sudah menempatkan posisi di barisan kelompok yang tak suka kepadanya sejak pertama kali ia muncul.

Pada akhirnya, Coki hanya menjadi bagian dari berderet-deret permasalahan yang timbul tenggelam di jagad yang serba tak jelas. Setelah ini, tak perlu diramal, bakal muncul masalah yang bisa serupa bisa juga tidak.

Hari ini melihat ia terpenjara karena narkoba dengan wajah yang entah dibuat layu. Tapi, disaat yang hampir bersamaan seorang paedofil bebas dari penjara, dengan diarak sebagai sosok yang dirindukan.

Selamat berproses Coki…

Selamat datang Iful…

Leave a Reply