Home > Ngopi > When Dog Goes Public; Njirrr

When Dog Goes Public; Njirrr

Njirr..
Bjirr…
Anjirr…
Anjim..
Anying..
Anjis..
Anjrit..
Anjay…

Apa lagi?

Entah siapa yang memulainya. Istilah slang, paling aneh ketika manusia sebagai makhluk paling berakal, justru lebih seru ketika dipanggil dengan beragam istilah yang merujuk ke induk kata aslinya; anjing.

Rasanya terlalu naif jika membangun suasana akrab dengan istilah binatang. Belakangan, istilah itu malah mengarah ke rasa kekaguman terhadap sesuatu, entah bagian tubuh mana dari anjing yang merepresentasikan rasa keakraban atau kekaguman dan keterkejutan.

Belakangan istilah-istilah itu dianggap sebagai idiom, sebagai bentuk pembelaan diri dari mereka yang lidahnya terlanjur biasa melafalkannya sehari-hari.

Sengketa makna ini awalnya bermula dari istilah anjay, yang kemudian meluas menjadi istilah-istilah baru sebagai ekspresi yang anehnya tidak memiliki impresi apa-apa buat mereka yang jidatnya dilabeli dengan si anying.

Pergeseran Makna

Dinamisnya pergeseran makna ini sebenarnya melenceng jauh. Karena dulu, istilah yang mengarah ke binatang ini, selalu dalam suasana yang sedang ‘panas’ sebagai bentuk umpatan dalam kelompok umpatan paling kasar yang jarang terlontar dari mulut, kecuali dalam representasi perasaan marah.

Entah karena latah atau menganggap semua yang kasar sudah terlalu lazim dalam keseharian, istilah ini menjadi budaya pop yang akhirnya menjadi biasa. Ironisnya, ia justru menjadi trend, yang tak lagi memberikan sensasi rasa lagi.

Divesifikasi Asu

Dulu, tahun 90-an, di Yogyakarta, ada istilah slang sejenis yang bisa jadi menjadi sebuah diversifikasi bahasa agar lebih menasional, mungkin. Selain bahasa walikan, berupa plesetan bahasa Jawa melalui konsep aksara Jawa yang mulai dipopulerkan oleh pabrik kaos kenamaan asal Yogyakarta, Dagadu.

Dagadu sendiri berarti matamu, sesuai dengan logo di tiap kaos produksi Dagadu. Pabrik Dagadu, mengambil merek pabriknya dari plesetan yang diambil berdasarkan aksara Jawa, Hanacaraka.

Baca Juga:  Seandainya Kamu PPKM di Korea...

‘Da’ berarti Ma, ‘Ga’ berarti Ta dan ‘Du’ berarti Mu (seharusnya menjadi Ma, tapi kemudian diubah menjadi Mu sesuai dengan huruf akhir dari ‘matamu’ yakni; u).

Kala itu, kepopuleran kaos ini bahkan tembus hingga ke luar negeri. Di Indonesia, siapapun yang mengenakan kaos ini, boleh jumawa kemana-mana. Kaos Dagadu bahkan dijiplak dan dijual dengan harga yang murah.

Tiap musim study tour, rombongan siswa dari berbagai daerah sama sekali tak tertarik mengunjungi Candi Borobudur atau Prambanan atau Keraton Yogyakarta. Tujuannya satu, gerai resmi Dagadu, termasuk guru-guru pendampingnya.

Yang uang sakunya pas-pasan, yang berangkat study tournya dilepas dengan omelan emak bapaknya, terpaksa melirik kaos Dagadu dipinggiran kaki lima Malioboro.

Selesai dengan Dagadu. Sejalan dengan boso walikan itu pula, istilah-istilah seperti Dab yang berarti Mas, hingga qirik atau anjing menjadi percakapan paling populer dalam keseharian remaja Jogja saat itu. Termasuk pula, kata asu yang dalam bahasa Jawa berarti anjing, juga selalu ada dalam percakapan sehari-hari.

Asu, su, uasuwok, bisa menjadi panggilan untuk orang, umpatan atau bentuk keterkejutan akan sesuatu.
Memiliki makna yang sama, jika asu, su atau uasuwok dianggap terlalu lokal, akhirnya dinasionalkan menjadi beragam, ada yang sebatas penggalan kata; njing, ada pula yang bergeser jauh; njir, anying, anjrit, bjiirr atau anjay.
Walaupun sampai saat ini, kata; asu, su, uasuwok masih sering diucapkan atau dilihat di lini-lini massa dan itu sudah dianggap biasa.

Dari Pop Jadi Pidana

Entah sekedar cari perhatian, seorang youtuber, menganggap berbagai istilah yang mengarah ke anjing ini sebagai tak pantas ditempatkan ke makhluk lain bernama manusia. Ia mempermasalahkan kata ‘anjay’ yang dianggap tak etis untuk digunakan dalam keseharian khususnya untuk remaja.

Baca Juga:  Rajabasa dan Antiklimaksnya

Komnas Perlindungan Anak yang mungkin terlalu reaktif atau sedang tidak terlalu padat aktivitasnya, meresponnya dengan menempatkan berbagai istilah yang mengarah ke anjing itu sebagai bentuk kekerasan verbal atau perundungan.

Sang Komnas mendalilkan UU RI No.35 tahun 2014 tentang perlindungan anak sebagai dasar hukum untuk memidanakannya.

Faktanya ancaman itu seperti angin lalu, bisa jadi ia cuma jadi bahan cemoohan yang terlalu absurd,’njirrr, gue mau dipenjara cuma karena ngomong njirrr’.

Fakta serius lainnya (buat Komnas PA), istilah-istilah itu malah makin meluas dan menjadi bahasa keseharian layaknya; lu atau gue, yang biasa saja dan tak ada rasa takut mengucapkannya, walau harus berteriak sekalipun.

Bahkan ada orang tua yang entah bangga atau begitu tega memberi nama depan anak lelakinya dengan Anjay dan Anjir!.

Itu gimana ceritanya Pak Komnas?.

Leave a Reply