Home > Nyatire > Dalit, Subkasta Paling Sandal Jepit yang Dianggap Sebagai Najis

Dalit, Subkasta Paling Sandal Jepit yang Dianggap Sebagai Najis

dalit

Dunia sudah hampir kiamat, tapi sebagian penduduk di India sudah hidup dalam kiamat itu sendiri. Lahir, besar, tua dan mati dalam keadaan rendah. Mereka tak pernah mengenyam nikmatnya hidup kecuali diskriminasi.

Dibalik gemerlap hingar bingar hedonis ala Bollywood, mulusnya Kareena Kapoor atau heroiknya Sharukh Khan. India seolah ingin terlihat baik-baik saja.

Negeri paling padat kedua di dunia setelah Tiongkok dengan jumlah populasi lebih dari 1,3 Milyar penduduk (2020) itu menyimpan begitu banyak diskriminasi rasial melalui sistem kasta yang sudah berlangsung selama 3 ribu tahun lamanya, demi yang mereka namakan sebagai wujud ketaatan.

Kasus diskriminasi rasial ini, kian menambah daftar panjang, cara lain ‘membunuh’ penduduknya sendiri. Selain tingginya angka kasus Covid-19 di India yang mencapai 400 ribu kematian atau berada diurutan ketiga dunia setelah Amerika dan Brasil, dengan total angka kematian akibat Covid-19 di dunia yang mencapai 4 juta jiwa.

Dalit, sebuah entitas subkasta paling rendah bahkan dibanding Sudra. Ia menjadi titik paling nadir dari sistem kasta yang membagi stratifikasi sosial tiap penduduk India yang sudah berlaku sejak 3 ribu tahun lalu sebagai “jatah hidup” melalui kelompok hierarkis ortodok yang membaginya melalui klasifikasi pekerjaan (karma) dan agamanya (dharma) pada setiap nyawa di India.

Dalihnya, untuk membangun sebuah keteraturan sosial, yang kenyataannya justru malah sebaliknya. Karena menguntungkan mereka-mereka yang bahkan sejak dalam kandungan sudah mendapatkan privilege sebagai kelompok manusia paling istimewa lewat garis keturunan Brahmana atau Ksatria.

Sembari terus menanam doktrin, bahwa mereka yang dari golongan Brahmana adalah titisan dari dewa pencipta, dengan mengisi ruang-ruang nyaman sebagai tokoh agama atau kaum intelektual.

Demikian juga kelompok dengan identitas Ksatria, yang lazim menjadi penguasa dan tinggal di tempat-tempat yang nyaman, dengan kuasa regulasi yang signifikan dan nyaris untouchable.

Kemudian, ada pula kasta Vaishya yang umumnya adalah pedagang dan terakhir adalah Sudra sebagai kasta paling bawah dari hierarki.

Sementara Dalit, mereka bahkan tak ada dimana-mana. Entitasnya dianggap tidak ada meski jumlah populasinya lebih dari 200 juta.

Ada yang menyebut Dalit masuk dalam golongan subkasta Sudra–seandainya benar, maka bayangkan tiap kasta-kasta utama ini pada perkembangannya telah membelah diri menjadi 3 ribu hingga 25 ribu subkasta dibawahnya, setelah itu entah Dalit berada diurutan ribuan subkasta yang keberapa, atau bisa jadi yang terakhir.

Dianggap Haram

Mereka, yang apes lahir dari kelompok Dalit bahkan tak lebih baik dari liur anjing, sebagai kelompok haram dan dilarang masuk ke kuil, meski untuk beribadah kepada siapa yang mereka sebut dan yakini sebagai pencipta.

Seorang pemimpin Dalit, BR Ambedkar bahkan pernah menyebut keberadaan sebuah desa yang menjadi tempat tinggal kelompok Dalit diharuskan memakai sebuah penampung khusus untuk membuang ludah yang diikat di leher agar liur mereka yang Dalit ini tak terkena warga dari kasta lain.

Di komunitas Dalit lainnya, mereka dipaksa mengikatkan dahan pohon di pinggang bagian belakang mereka, fungsinya untuk menghapus jejak kaki mereka yang hina.

Pembersih Tinja

Jika karma mereka yang Brahman maupun Ksatria nyaman dibalik Dhoti, Kurta, Sherwani atau Saree yang terbuat dari sutra, dengan kiblat kebarat-baratan yang mentereng, maka Dalit justru sebaliknya.

Karmanya tak lebih dari hina, menjadi pengumpul tinja atau menjadi tumbal sebagai pekerja yang bertugas mengkremasi jasad-jasad pasien Covid-19. Bekerja siang malam dengan upah yang tak seberapa.

Sebagai pengepul tinja, mereka dipaksa untuk melakukannya secara manual, dengan tangan. Di toilet-toilet kering dimanapun di India agar hajat para Brahman dan Ksatria tetap lancar.

Diskriminasi Dalit

Sejak tahun 1950, konstitusi India sudah melarang diskriminasi yang bersembunyi melalui sistem kasta ini, namun konstitusi ternyata hanya menjadi lips service semata.

Faktanya, diskriminasi masih berlangsung sampai saat ini, melalui aturan-aturan yang bahkan mungkin jauh lebih kejam dari stigma buruk dunia tentang Korea Utara selama ini.

Terakhir, seorang remaja perempuan Dalit, tewas setelah diperkosa massal oleh mereka yang berasal dari salah satu kasta tertinggi, Thakur. Dia meninggal di rumah sakit karena tulang belakangnya hancur.

Cara kremasinya pun terbilang kejam, karena dibakar dengan menggunakan bensin dan tak mengizinkan siapapun keluarganya untuk melihat meski untuk yang terakhir kali.

Entah sedang berada dimana Sundar Pichai kala itu, saat Google mencakar mesin perambannya dengan berita pemerkosaan itu.

Entah pula dengan sederet rombongan Bollywood Avengers; Sharukh Khan, Amitabh Bachchan, Ajay Devgan, Hrithik Roshan, yang selalu identik sebagai sosok paling heroik pembela kebenaran, pembela kaum tertindas.

Nampaknya, mulai dari sekarang saya harus merekonstruksi ulang kebanggaan saya terhadap Sharukh Khan, apalagi Hrithik Roshan sebagai sosok paling baik, kharismatik, karena dia terlalu dalit (baca: haram) bahkan untuk rumpunnya sendiri. (*)

(sumber foto: tribunnews)

Leave a Reply